Filosofi PHBS, Sanitasi dan Memutus Penularan Penyakit

Filosofi PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), sanitasi dan memutus penularan penyakit Covid-19 adalah tiga hal yang harus terus diperhatikan. Artinya, secara filosofi program PHBS itu adalah ruh sanitasi dan keduanya sangat efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular yang penyebarannya berbasis pada kondisi sanitasi dan perilaku manusia yang buruk, termasuk Covid-19.

Oleh: Arda Dinata

In SANITARIAN – Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) berupa cuci tangan dengan air bersih dan sabun adalah yang tepat dan murah bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebab secara umum cara penularan penyakit menular (seperti Covid-19), bisa lewat menghirup percikan ludah dan bersin atau batuk penderita. Jadi, keberadaan filosofi PHBS, sanitasi dan memutus penularan penyakit merupakan hal penting diperhatikan.

Selanjutnya, bisa lewat kontak jarak dekat dengan penderita, seperti bersentuhan atau jabat tangan. Yang terakhir dapat terjadi penularan dengan perilaku memegang mulut dan hidung tanpa mencuci tangan setelah menyentuh benda yang terkena air liur penderita.

PHBS dan Covid-19

Atas fakta keberadaan Covid-19 itu, tentu tidak berlebihan keberadaan PHBS ini dapat menjadi langkah tepat dalam memutus mata rantai penularan di masyarakat. Apalagi, bak pasukan infiltrator yang bergerak senyap, kemampuan virus SAR-CoV-2 si penyebab Covid-19 ini memang istimewa. Untuk itu, jangan sepelekan keberadaan keberadaan filosofi PHBS, sanitasi dan memutus penularan penyakit ini.

Apalagi, dengan masa inkubasi 2-14 hari, virus itu masuk ke wilayah musuh untuk menggalang kekuatan terlebih dahulu. Namun, ketika virus itu menunjukkan keperkasaannya, tubuh manusia yang dijangkiti bakal seketika memburuk tiada ampun (Widyasmoro, 2020).

Tubuh yang dimasuki virus apa pun, belum tentu selalu harus jatuh sakit. Peperangan berlangsung di dalam tubuh yang sudah dimasuki virus, oleh karena tubuh memiliki perangkat kekebalan, atau sistem imun, baik berupa cairan dalam darah maupun sel darah putih.

BACA JUGA:  Risiko Kesehatan Perubahan Iklim

Keduanya secara bermitra menyerbu tempat di mana virusnya masuk. Namun, belum tentu perangkat kekebalan tubuh punya semua senjata penumpas untuk melawan virus yang sudah terlanjur masuk (Nadesul, 2020). 

Penularan SARS-CoV-2 sendiri terjadi melalui percikan air akibat batuk atau bersin (droplet) yang menyembur hingga jarak dua meter. Virus ini di dalam droplet, berdasarkan suatu percobaan simulasi, sebagian kecil mampu bertahan di udara minimal selama 3 jam, dan sebagian besar bertahan di permukaan tubuh dan benda selama 5,6 hingga 6,8 jam bila tidak dilakukan proses disinfeksi.

Virus menginfeksi manusia ketika menyentuh permukaan benda atau menghirup droplet yang terkontaminasi, sehingga virus menempel pada selaput lendir mata, hidung, dan saluran napas termasuk paru. Tubuh mengalami radang untuk membunuh virus sehingga timbul gejala umum seperti demam hingga lebih dari 37,5 derajat celsius (Pratomo, 2020).

A Group Member of:
Toko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

error: