Dasar KeslingInspirasi SanitarianJurnal Kesehatan LingkunganLingkungan Fisik

Teater Hijau dalam Panggung Pembangunan

Kita bisa belajar dari Kosta Rika, sebuah negara kecil di Amerika Tengah yang berhasil menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan konservasi lingkungan. Negara ini telah menghasilkan 99% listriknya dari sumber energi terbarukan, membalikkan laju deforestasi, dan menjadikan ekowisata sebagai mesin ekonomi utama. Kosta Rika tidak melihat keberlanjutan ekologi sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk model pembangunan alternatif. Bandingkan dengan Indonesia, yang masih terkungkung dalam ideologi pembangunan konvensional meskipun memiliki kekayaan biodiversitas yang jauh lebih besar.

Ulrich Beck, sosiolog Jerman, mengenalkan konsep “risk society” atau masyarakat risiko, dimana modernisasi menghasilkan risiko-risiko yang tidak terkendali. Pembangunan nasional kita telah menciptakan risiko ekologis yang dilemparkan kepada masyarakat marjinal. Banjir di perkotaan, krisis air bersih di desa-desa, dan pencemaran udara yang kronis adalah eksternalitas negatif yang harus ditanggung oleh mereka yang paling sedikit menikmati hasil pembangunan. Terjadi ketidakadilan ekologis yang sistemik dalam model pembangunan kita, dimana mereka yang paling rentan menanggung beban terberat dari degradasi lingkungan.

Pertumbuhan yang digaungkan dalam debat politik dan dokumen perencanaan pembangunan kita masih didefinisikan secara sempit melalui lensa Produk Domestik Bruto (PDB). PDB, sebagai instrumen pengukuran, gagal menangkap deplesi sumber daya alam dan kerusakan ekosistem. Ketika hutan ditebang untuk industri pulp dan kertas, PDB meningkat, tetapi jasa ekosistem yang hilang—seperti penyerapan karbon, pengaturan siklus air, dan pelestarian biodiversitas—tidak tercatat dalam neraca ekonomi kita. Inilah kegagalan epistemologis dalam cara kita memahami dan mengukur kemajuan.

Pembangunan sebagai perwujudan dari retorika modernitas telah menghasilkan paradoks ekologis yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, modernitas menjanjikan emansipasi melalui rasionalitas dan kemajuan teknologi. Di sisi lain, rasionalitas instrumental yang sama telah mereduksi alam menjadi sekadar objek eksploitasi. Kita perlu mempertanyakan kembali asumsi dasar dalam narasi pembangunan kita yang masih didasarkan pada dikotomi manusia-alam, seolah-olah manusia berada di luar dan di atas alam, bukan bagian integral dari jaring kehidupan yang kompleks.

Pemerintah terlalu sibuk dengan permainan angka: target pertumbuhan ekonomi, peringkat kemudahan berusaha, dan statistik penurunan kemiskinan. Sementara itu, indikator kesehatan ekosistem—kualitas air, tutupan hutan, biodiversitas, dan kualitas udara—hanya menjadi catatan kaki dalam laporan pembangunan. Para teknokrat kita terhipnotis oleh fantasi tentang “Revolusi Industri 4.0” dan “ekonomi digital”, tanpa menyadari bahwa revolusi yang paling mendesak adalah revolusi dalam cara kita memandang dan menghargai alam.

Apakah kita akan terus menjadi Sisifus modern, yang mendorong batu pembangunan ke atas bukit dengan retorika keberlanjutan, hanya untuk melihatnya jatuh kembali karena fondasi ekologisnya rapuh? Atau kita akan memilih untuk keluar dari mitologi pembangunan konvensional dan menciptakan narasi baru yang menempatkan keberlanjutan ekologi bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai jantung dari visi kemajuan bangsa?

Keberlanjutan sejati dimulai ketika kita mengakui bahwa ekonomi adalah subsistem dari ekosistem, bukan sebaliknya. Ketika kebijakan publik tidak lagi diukur semata dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuannya untuk menjaga integritas sistem kehidupan yang menjadi sandaran eksistensi kita. Ketika keadilan sosial dan keadilan ekologis dilihat sebagai dua sisi dari mata uang yang sama.

Saat teater pembangunan kita terus berlangsung, kita perlu bertanya: sampai kapan kita akan puas dengan sekadar peran figuran dalam drama keberlanjutan global? Drama dimana kita mengenakan topeng hijau, tetapi hati kita masih hitam oleh hasrat eksploitatif. Mungkin sudah waktunya kita menulis naskah baru, membangun panggung baru, dan mementaskan kisah pembangunan yang tidak lagi menjadikan alam sebagai tumbal kemajuan, tetapi sebagai mitra dalam tarian kehidupan yang berkelanjutan.

admin

www.insanitarian.com adalah Situs Nasional Seputar Dunia Kesehatan, Hygiene, Sanitasi, dan Kesehatan Lingkungan (Sumber Inspirasi & Referensi Dunia Kesehatan, Sanitasi Lingkungan, Entomologi, Mikrobiologi Kesehatan, dll.) yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House. Redaksi dengan senang hati menerima kiriman tulisan ilmiah dengan gaya penulisan secara populer. Panjang tulisan antara 8.000 -10.000 karakter.

error: