Dasar KeslingInfo KesehatanInspirasi SanitarianKesehatan LingkunganOpiniPromkes

Program Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas itu, tidak lain terangkum dalam program klinik sanitasi. Klinik sanitasi ini, harusnya menjadi primadona dari program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas. Tujuan khusus klinik sanitasi ini adalah terciptanya perpaduan kegiatan lintas program dan lintas sektor dalam program pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat, meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemampuan dan perilaku masyarakat (pasien, klien dan lingkungan di sekitarnya).

Oleh: Arda Dinata

In SANITARIAN – Tulisan saya dalam edisi sebelumnya yang berjudul, “Klinik Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas” dan “Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas,” telah mendapat banyak komentar di group What App Kesling Indonesia yang saya kelola.

Melanjutkan bahasan tersebut, kali ini disajikan terkait program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas. Walau pada dasarnya program pelayanan kesehatan lingkungan itu hampir sama, tapi yang memebedakan hanyalah lokasi dan sasaran dari program tersebut.

Untuk kelancaran program, termasuk dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan lingkungan ini, maka wajib disusun suatu pedoman penyelenggaraan pelayanan kesehatan lingkungan. Hal ini dilakukan, tidak lain adalah untuk memberikan pedoman kepada penyelenggara layanan (puskesmas). Baik, untuk mereka yang telah melaksanakan program pelayanan kesehatan lingkungan maupun baru akan melaksanakannya.

Program Kesehatan Lingkungan

Program kesehatan lingkungan merupakan upaya preventif untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan manusia dan sesuai Kepmenkes RI No.1428/2006 yaitu kesling wajib dilaksanakan puskesmas.

Sesuai yang diamanatkan pemerintah, tujuan umum dari pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas adalah untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dan mencegah penyakit atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan. Bahkan, lebih jauh ditujukkan dalam rangka mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan, maka perlu diselenggarakan pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas.

BACA JUGA:  Ekologi Manusia

Program kesehatan lingkungan itu, antara lain meliputi:

1. Penyehatan air. Kegiatan yang dilakukan ialah memonitoring dan inspeksi kesehatan lingkungan (IKL) terhadap sarana air bersih (SAB) dan sarana air minum (SAM).

2. Penyehatan makanan dan minuman. Memonitoring dan melakukan inspeksi terhadap tempat pengelolaan makanan (TPM), antara lain pada: jasa boga (katering), rumah makan  (restoran), depot air minum, kantin (sentra makanan jajanan), dll.

3. Penyehatan perumahan dan sanitasi dasar. Melakukan monitoring dan inspeksi sanitasi di rumah yang terindikasi tidak memenuhi syarat kesehatan  yang ada pada wilayah kerja puskesmas.

4. Pembinaan Tempat-Tempat Umum (TTU). Melakukan monitoring dan inspeksi sanitasi dan pembinaan pada sarana TTU, seperti sekolah, pasar, tempat wisata, tempat ibadah, dll.  

5. STBM (Santasi Total Berbasis Masyarakat). STBM merupakan suatu upaya kesehatan berbasis masyarakat yang meliputi 5 pilar, yaitu: stop buang air besar sembarangan; cuci tagan pakai sabun (CTPS); pengolahan makanan dan minuman; pengelolaan sampah; dan pengelolaan air limbah.

6. Pelayanan kesehatan lingkungan (Klinik Sanitasi). Pelayanan yang diberikan berupa konseling sanitasi yang diberikan kepada pasien/penderita penyakit yang berbasis lingkungan (PBL), seperti: ISPA, TBC, DBD, malaria, chikungunya, flu burung, filariasis, diare, kecacingan, kulit, keracunan (makanan dan peptisida), dll.

Jadi, secara sederhana, sebenarnya program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas itu dapat berada dalam payung “Program Klinik Sanitasi.” Mengapa? Sebab, lewat klinik sanitasi itu semua bidang, kegiatan dan permasalahan kesehatan lingkungan di wilayah puskesmas itu ada dalam kajian klinik sanitasi.

Klinik Sanitasi

Klinik sanitasi ini, harusnya menjadi primadona dari program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas. Kita tahu, tujuan khusus klinik sanitasi (program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas) ini adalah terciptanya perpaduan kegiatan lintas program dan lintas sektor dalam program pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat, meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemampuan dan perilaku masyarakat (pasien, klien, dan lingkungan di sekitarnya).

BACA JUGA:  Strategi Utama Atasi DBD

Program dan kegiatan tersebut, tidak lain dalam rangka untuk mewujudkan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat, meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kemampuan masyarakat. Tepatnya, untuk mencegah dan menanggulangi penyakit berbasis lingkungan maupun masalah kesehatan lingkungan dengan sumber daya yang ada.

Lebih jauh, bahkan klinik sanitasi itu hadir untuk membantu menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatkan kondisi kesehatan lingkungan. Adapun sasaran klinik sanitasi (program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas) adalah pasien, klien, dan masyarakat umum.

Dalam arti lain, klinik sanitasi ini memberi pelayanan kepada para penderita penyakit (pasien) yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan. Baik, mereka yang datang ke puskemas atau yang ditemukan di lapangan.

Termasuk, pada konteks ini bisa juga masyarakat umum (klien) yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan. Entah, mereka itu yang datang ke puskesmas atau yang menemui petugas klinik sanitasi di lapangan, maupun terhadap kondisi lingkungan yang jadi penyebab masalah kesehatan lingkungan yang terjadi pada penderita/klien dan masyarakat sekitarnya.

Konseling dan Inpeksi Program Kesehatan Lingkungan

Dalam konseling program kesehatan lingkungan (klinik sanitasi), pengambilan keputusan adalah tanggung jawab pasien. Pada waktu Sanitarian (tenaga kesehatan lingkungan) membantu pasien, di sini terjadi komunikasi dua arah.

Tepatnya, dalam konseling ada langkah-langkah komunikasi secara timbal balik yang saling berkaitan (komunikasi interpersonal) untuk membantu pasien membuat keputusan. Tugas pertama Sanitarian, adalah menciptakan hubungan dengan pasien. Sanitarian menunjukkan perhatian dan penerimaan melalui tingkah laku verbal dan non verbal yang akan mempengaruhi keberhasilan pertemuan tersebut.

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

Tinggalkan Balasan

error: