Info KesehatanSanitasi Makanan

Sejarah Program Ketahanan Pangan

Pertama, program 30.000 ha sawah di Kalimantan Tengah tahun 2020.Program ini ada seluas 20.000 ha yang dilaksanakan di “bekas” proyek lahan gambut sejuta hektar.

Program tersebut dilakukan berupa intensifikasi sistem pengairan yang dihidupkan kembali. Telah dibuka, ada seluas 10.000 ha lahan baru, di Pulang Pisang (daerah transmigrasi).

Dalam program itu, untuk percepatan seluruh kebutuhan pertanian (bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian) disediakan oleh pemerintah. Anggota TNI dilatih selama seminggu yang kemudian dikaryakan menjadi petani.

Program ini dari tahun 1982 sudah ada transmigran di Pulang Pisang. Selama 40 tahun bertani sawah sehingga sudah terbentuk suatu budaya pertanian (sudah baku). Sejarah membuktikan, ternyata membutuhkan waktu yang lama untuk membentuk kultur pertanian sawah di daerah ini. 

Kedua, perkebunan singkong 31.000 ha di daerah Gunung Mas, tahun 2021. Program ini mencetak cadangan karbohidrat (rencana u/ 120 hari). Dalam proyek ini, ditawarkan adanya kerjasama investasi dengan Korea Selatan dengan penawaran singkong sebagai penganti gandum. Lahan yang digunakan, setengahnya (15.000 ha) adalah dengan membuka hutan alam.

Faktanya, selama tahun 2021 telah dibuka 600 ha hutan alam yang menimbulkan terlepasnya 61.000 ton karbon (bertambah efek rumah kaca). Dampaknya adalah telah terjadi banjir di beberapa daerah yang sebelumnya tidak pernah banjir.

Ketiga, lumbung Pangan 30.000 ha di Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Dalam proyek ini dibuka lahan 30.000 ha di tiga kabupaten untuk diberikan kepada petani yang belum memiliki lahan untuk diolah.

Pada konteks ini, petani di kontrak, diberi lahan 3 ha, serta diberikan alat-bahan kebutuhan pertanian termasuk bibit dan pupuk. Jenis tanaman yang ditanam harus yang bibitnya diberikan oleh pemerintah.

BACA JUGA:  Waspadai Penyakit Mulut dan Kuku Pada Ternak

Selain itu, pola cocok tanam juga harus menurut aturan pemerintah. Hasil panen dibeli oleh koperasi (yang juga menentukan harga). Faktanya, ternyata hasil panen tidak sesuai dengan perkiraan (rencana 1 hektar lahan kentang menghasilkan panen 10 ton, ternyata hanya 3 hektar lahan kentang baru menghasilkan 10 ton).

Fakta lainnya, pengelolaan pengadaan alat, bahan, bibit, dan pupuk dalam proyek ini diserahkan pada korporasi swasta. Bibit yang diberikan untuk keperluan industri, bukan pemenuhan pangan rakyat. Akibatnya, petani memilih untuk menjual ke pasar karena harga lebih baik. Akhirnya, pemerintah sebaiknya berpikir tentang bagaimana melakukan modernisasi pertanian tanpa harus membangun. Tapi, lebih memanfaatkan terhadap pertanaian yang sudah ada. (Rohmansyah W. Nurindra/AD).***

❤oOo❤_

Untuk mendapatkan update tentang informasi terbaru dari www.Insanitarian.com, silahkan ikuti kami lewat media sosial di bawah ini:

Instagram: https://www.instagram.com/arda.dinata/

Facebook: https://web.facebook.com/Inspirasiarda

Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di  https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:

Silakan share informasi ini agar nilai manfaatnya bisa dirasakan para pembaca lainnya. Oke, saya tunggu juga tanggapannya di kolom komentar ya!

_❤oOo❤_

Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:

Arda Dinata adalah Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di

https://insanitarian.com/ ,

http://www.produktifmenulis.com,

https://ardadinata.com/, dan

BACA JUGA:  Memahami Analisis Kebijakan

https://www.miqraindonesia.com/

admin

www.insanitarian.com adalah Situs Nasional Seputar Dunia Kesehatan, Hygiene, Sanitasi, dan Kesehatan Lingkungan (Sumber Inspirasi & Referensi Dunia Kesehatan, Sanitasi Lingkungan, Entomologi, Mikrobiologi Kesehatan, dll.) yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House. Redaksi dengan senang hati menerima kiriman tulisan ilmiah dengan gaya penulisan secara populer. Panjang tulisan antara 8.000 -10.000 karakter.

One thought on “Sejarah Program Ketahanan Pangan

Tinggalkan Balasan

error: