Kesehatan LingkunganLingkungan FisikOpiniPromkes

Mekanisme Penyebaran Kuman TBC

Mekanisme penyebaran kuman TBC (Mikrobacterium tuberkolusis) bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya.

(Sylvia A Price, 1995).
Oleh: Arda Dinata

In SANITARIANPenyakit TBC (Turbekulosis) merupakan penyakit kronik (menahun) yang telah lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti karena menular. TBC ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis yang menyerang paru. Bakteri ini berbentuk batang, yang memiliki sifat khusus yaitu tahan terhadap zat asam.

Mekanisme Penyebaran Kuman TBC

Oleh karena itu, bakteri ini dikenal sebagai bakteri tahan asam (BTA). Mycobacterium tuberkulosis akan mati jika terkena sinar matahari langsung. Akan tetapi bakteri ini dapat bertahan hidup dalam waktu lama di tempat gelap dan lembab.

TBC ditularkan dari penderita TBC ketika dia batuk atau bersin. Penderita menyebarkan bakteri Mycobacterium tuberkulosis ke udara dalam percikan dahak (droplet).

Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara dalam beberapa jam. Orang yang menghirup udara yang mengandung droplet tersebut dalam saluran pernapasannya dapat terinfeksi. Selama bakteri TBC ada di dalam tubuh melalui sistem pernapasan, bakteri TBC dapat menyebar dari paru-paru ke organ tubuh yang lain. Mekanisme penyebaran kuman TBC tersebut dapat melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, atau langsung menyebar menuju bagian tubuh yang lain.

Daya penularan TBC tergantung banyaknya kuman yang keluar dan menyebar dari paru-paru penderita. Makin banyak bakteri yang terdapat dalam dahak penderita, makin besar pula kemungkinan penularannya.

Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ini tergantung dari seberapa banyak dan lamanya ia menghirup droplet yang mengandung bakteri TBC. Selain itu, penularan TBC pada diri seseorang tergantung pula tingkat kesehatan dan faktor gizinya.

BACA JUGA:  Peran Kesehatan Lingkungan Atasi Stunting

Lalu, bagaimana sesungguhnya mekanisme penyebaran penyakit TBC ini?

Mekanisme Penyebaran

Mekanisme penyebaran kuman TBC (Mikrobacterium tuberkolusis) bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya (Sylvia A Price, 1995, hal 754).

Penularan tuberkulosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan, dengan cara dibatukkan atau dibersinkan ke luar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ke tanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru (dr. Hendrawan N, 1996, hal1-2).

Pada permulaan mekanisme penyebaran kuman TBC akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain.

Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi di bawah lobus atas paru-paru atau di bagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan.

Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama digantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit.

BACA JUGA:  Kemampuan Ilmiah Bagi Sanitarian

Proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.

Kompleks ghon yang mengalami pencampuran itu, juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, di mana bahan cair lepas ke dalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Pada proses ini akan dapat terulang kembali di bagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus (Sylvia. A Price: 1995; 754).

Kondisi kavitas yang kecil dapat menutup, sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda, lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkijauan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif (Syilvia. A Price: 1995; 754).

Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Jumlah cairan di rongga pleura tetap, karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma, bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H, Mukti A, 1995, 145).

BACA JUGA:  Pendekatan Entomologis dan Perilaku Masyarakat Dalam Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Jawa Barat

Akhirnya, effusi pleura ini berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. Kemungkinan penyebab efusi antara lain:

(1) penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura,

(2) gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura

(3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma, jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan  

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

Tinggalkan Balasan

error: