Puasa, Nafsu, dan Menguatkan Jiwa Manusia
Menurut Ahmad Faried, ada dua cara untuk mengadakan penghisaban (pengevaluasian) terhadap nafsu, yaitu sebelum dan sesudah melakukannya. Hal ini bisa dilakukan lewat penguatan hubungan antara puasa, nafsu, dan menguatkan jiwa manusia.
(1) Hendaknya seseorang berhenti untuk berpikir ketika pertama kali ia bermaksud memulai pekerjaan.
Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum jelas baginya bahwa keputusannya itu tidak berdampak negatif. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang mau berpikir sejenak ketika ia mau melakukan perbuatan, jika memang perbuatan itu karena Allah, maka ia teruskan dan jika karena selain-Nya, maka ia batalkan.”
(2) Mengevaluasi diri setelah beramal. Dalam hal ini ada tiga tingkatan evaluasi.
Pertama, mengevaluasi nafsu atas ketaatan yang dilakukannya, tetapi ia kurang dalam memenuhi hak Allah dalam perbuatan itu. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam ketaatan itu ada enam perkara: ikhlas berbuat, nasihat (mengharap kebaikan) karena Allah, mengikuti ajaran Rasul saw, menampakkan sisi ikhsan dalam beramal, mengakui karunia Allah atasnya dan setelah itu mengakui akan kekurangannya dalam melakukan perbuatan itu. Maka dihisablah dirinya sendiri dari kriteria yang ditetapkan-Nya tersebut.
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yaang apabila ditinggalkan lebih utama daripada dikerjakan. Ketiga, menghisab diri atas suatu perbuatan yang boleh (mubah) hukumnya, sebab ia telah melakukannya. Terlepas dari apakah ia melakukannya karena Allah dan kehidupan akhirat, supaya beruntung, ataukah demi mengejar kebahagiaan dunia yang semu dan temporal ini, sehingga ia akan menyesal di hari kemudian?
Terlepas dari perangkap nafsu
Sementara itu, dalam bahasa Ibn al Jauziy dalam kitab Dzamm al Hawaa (Celaan Terhadap Hawa Nafsu), untuk terlepas dari perangkap (nafsu) bagi orang yang terjerumus di dalamnya adalah dengan niat dan tekad yang kuat untuk meninggalkan sumber penyebabnya. Caranya dengan bertahap, sedikit demi sedikit meninggalkan biangnya. Dan menurut beliau ini memerlukan kesabaran dan perjuangan dengan bantuan tujuh perkara.
Yaitu (1) Merenung dan berfikir kembali bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan untuk menjadi budak nafsu. Manusia diciptakan agar bisa mempertimbangkan akibat segala sesuatu dan beramal saleh untuk bekal kehidupan akhirat.
(2) Hendaklah dia memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sudah berapa banyak akibat hawa nafsu, beberapa keutamaan menjadi musnah. Sudah berapa banyak karena nafsu, manusia terjerumus dalam lembah nista. Berapa banyak makanan yang menyebabkan penyakit. Berapa banyak pula akibat kekhilafan, reputasi menjadi pudar, malah mengakibatkan cemoohan dan hukuman. Sayangnya orang yang dikuasai hawa nafsu kerap menjadi buta dengan apa yang ada di sekelilingnya.
(3) Hendaklah orang yang berakal membayangkan bahwa dia baru saja memenuhi syahwatnya dan membersitkan dalam benaknya akibat dari perbuatan itu. Kemudian dia membayangkan lagi bahaya yang muncul setelah kenikmatan yang hanya sesaat (itu dilakukan). Maka dia akan menjumpai bahaya yang ada jauh lebih besar dibanding dengan kenikmatan hawa nafsu (yang dirasakan).
(4) Hendaklah dia membayangkan seandainya syahwat itu dilakukan orang. Lalu dia memikirkan akibat dari syahwat tersebut di dalam pikiran, seandainya aib itu menimpa dirinya.
(5) Hendaklah dia memikirkan kembali kenikmatan yang sedang dia kejar. Niscaya akal memberitahu kepadanya bahwa kenikmatan itu sebenarnya tidak berarti apa-apa. Hanya memang mata hawa nafsu telah buta (sehingga tidak obyektif dalam menilai sesuatu).
(6) Hendaklah dia memikirkan bagaimana terhormatnya ketika menang dan hinanya ketika kalah. Sesungguhnya tidak seorangpun yang berhasil menguasai hawa nafsunya melainkan dia akan merasa kuat kemenangannya. Dan tidak seorangpun yang berhasil ditaklukkan oleh hawa nafsunya melainkan akan merasa hina dan tidak ada harganya.
(7) Hendaknya membayangkan faedah tidak menuruti hawa nafsu. Di anatara faedah mengekang hawa nafsu adalah mendapatkan nama baik di dunia, selamatnya jiwa dan badan serta pahala yang telah dijanjikan di akhirat. Sebaliknya apabila dia mengumbar hawa nafsu, maka akan mendapatkan kebalikan dari faedah tersebut.
Ada baiknya, jika seseorang membayangkan kondisi di atas, seperti kondisi yang dialami oleh Nabi Adam (baca: kasus memakan buah khuldi) dan Nabi Yusup as (baca: kasus bujuk rayu Zulaikha). Yang satu mengenai kenikmatan sesaat dan yang satu lagi mengenai kesabaran yang dijalankan dengan penuh derita, namun kemuliaan yang diterima setelah itu. Itulah makna dari hubungan antara puasa, nafsu, dan menguatkan jiwa manusia. Wallahu’alam.***
_❤oOo❤_
Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
Arda Dinata, adalah kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (https://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.
_❤oOo❤_
Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:
- Biokimia
- Buku Kesehatan Lingkungan
- Dasar Kesling
- Entomologi
- Hyperkes
- Iklan
- Info Kesehatan
- Inspirasi Sanitarian
- Jurnal Kesehatan Lingkungan
- Kesehatan Lingkungan
- Lingkungan Fisik
- Majalah Inside
- Mikrobiologi
- Opini
- Parasitologi
- Pembuangan Tinja & Air Limbah
- Pengelolaan Sampah
- Pengembangan Profesi
- Penyehatan Air Minum
- Peraturan
- Promkes
- Renungan
- Rumah Sehat
- Sanitasi Makanan
- Sanitasi Rumah Sakit
- Sanitasi Tempat Umum
- Teknologi Tepat Guna
- Vektor dan Binatang Pengganggu
Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:
Arda Dinata adalah Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di
http://www.produktifmenulis.com,
https://www.miqraindonesia.com/

I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.