Info KesehatanMajalah InsideOpini

Jangan Anggap Sepele Kecemasan Akibat Pandemi Covid-19

  • Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Berbeda dengan orang-orang pada umumnya, orang yang mengalami Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merasakan beban yang lebih berat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Berdasarkan antaranews.com,  OCD dapat dimaknai sebagai gangguan kecemasan yang menyebabkan pelakunya harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang, yang bila tidak dilakukan dapat mengakibatkan kegelisahan dan kecemasan tertentu. 

Diawal pandemi Covid-19, muncul slogan 3 M untuk mencegah penularan penyakit yaitu menggunakan masker kesehatan, mencuci tangan dengan sabun memakai air mengalir, dan menjaga jarak fisik minimal 2 meter. Bagi orang yang mengalami OCD, karena ketakutan yang berlebihan terhadap ancaman Covid-19 ini, maka mereka akan terobsesi untuk terus melakukan 3M tersebut secara sporadis, dan tanpa mengenal waktu dan tempat. Ketakutan akan virus yang menyebar di udara, maka orang dengan OCD akan menggunakan masker sekalipun sedang tidur di rumahnya. Atau ketakutan akan penularan dari orang lain, maka orang dengan OCD tidak akan melakukan sosialisasi dengan orang lain secara fisik.

Orang dengan OCD ini hanya bisa disembuhkan dengan cara terapi kepada ahlinya yaitu psikiater atau psikolog. Para ahli ini akan mendeteksi awal kemunculan perasaan cemas yang berlebihan, lalu melakukan metode terapi yang sesuai dengan gejala-gejala tersebut.

Jangan Anggap Sepele Kecemasan Akibat Pandemi Covid-19

  • Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Tak dimungkiri, bahwa pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun ini menimbulkan dampak traumatik bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di dunia kesehatan mental, traumatik yang diakibatkan oleh peristiwa buruk yang dialami seseorang di masa lalu biasa dikenal dengan istilah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).  dr. Resthie Rachmanta Putri dalam klikdokter.com menjelaskan mengenai PTSD yaitu gangguan kesehatan mental seseorang yang bisa terjadi akibat pernah mengalami peristiwa mengerikan, mengejutkan, menakutkan, yang terjadi secara mendadak, dan mengancam hidup.

Post Traumatic Stress Disorder dapat terjadi pada orang-orang yang mengalami stigma negatif dari masyarakat sekitar setelah dinyatakan positif Covid-19, atau pada orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya akibat Covid-19. Bahkan dapat terjadi juga pada orang-orang yang mengalami penurunan finansial baik karena pemutusan hubungan kerja atau kebangkrutan usaha.

Pada masa awal pandemi Covid-19, kita banyak disuguhkan dengan berita-berita mengenai perilaku masyarakat yang sengaja menjauhi para mantan penderita Covid-19. Kemudian, “pengusiran” para tenaga kesehatan yang bekerja langsung berhadapan dengan pasien Covid-19. Bahkan penolakan masyarakat terhadap penguburan jenazah penderita Covid-19. Bagi orang-orang yang menjadi pelaku diskriminasi tersebut, tentu memberikan dampak traumatik yang perlu disembuhkan melalui konseling para ahli psikologi.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan para mantan penderita Covid-19 dijauhi oleh masyarakat sekitar selama waktu yag cukup lama. Bahkan untuk membeli bahan pokok ke warung pun, pemilik warung merasa risih dengan kehadiran mereka. Atau pun bagaimana perasaan anggota keluarga yang jenazah keluarganya ditolak secara beramai-ramai oleh masyarakat, sampai ada diberitakan masyarakat melempar dengan batu. Tentu pengalaman yang pahit ini memberikan dampak traumatik yang cukup dalam bagi orang-orang yang mengalaminya.

Empat jenis gangguan kecemasan tersebut mungkin dialami oleh kita maupun orang disekitar kita. Jika tidak diatasi, gangguan kecemasan ini akan berdampak bagi kesehatan kita baik kesehatan fisik maupun mental.

Untuk mempermudah masyarakat mengenali status kesehatan mental seseorang pada masa pandemi Covid-19 ini, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan buku pedoman “Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial pada Pandemi Covid-19”.

Buku ini dengan lugas menjelaskan bahwa sebenarnya gangguan kecemasan dapat diatasi tanpa bantuan dokter, seperti melalui cara mengonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, membatasi minuman beralkohol, atau zat penenang lainnya, tidak merokok, berolaraga secara rutin, dan melakukan metode relaksasi sederhana, seperti yoga atau meditasi. Harapannya dengan buku ini masyarakat dapat menjaga dirinya sendiri dari rasa cemas, stress, dan depresi yang dapat merugikan diri sendiri.

Selain mengetahui bagaimana cara mengatasi gangguan kecemasan,  kita juga sangat disarankan mencari informasi yang tepat dan benar mengenai Covid-19 ini baik di media cetak maupun media elektronik, sehingga kita dapat menilai suatu peristiwa sesuai dengan realitanya. Karena kesalahan dalam mencari informasi justru akan meningkatkan rasa cemas dan khawatir berlebihan.

Rasa tenang dan menerima situasi yang sedang terjadi dengan lapang dada sangat dibutuhkan dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Sikap inilah yang dapat mendorong kita melakukan upaya-upaya preventif sesuai dengan anjuran pemerintah.  Semoga segala upaya sederhana tersebut dapat menghindari kita dari gangguan kecemasan yang berlebihan akibat pandemi Covid-19 ini.

Edisi Cetak Dimuat di: Buletin Inside Edisi 29 Volume XV Nomor 2 Desember 2020

❤oOo❤_

Untuk mendapatkan update tentang informasi terbaru dari www.Insanitarian.com, silahkan ikuti kami lewat media sosial di bawah ini:

Instagram: https://www.instagram.com/arda.dinata/

Facebook: https://web.facebook.com/Inspirasiarda

Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di  https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:

Silakan share informasi ini agar nilai manfaatnya bisa dirasakan para pembaca lainnya. Oke, saya tunggu juga tanggapannya di kolom komentar ya!

_❤oOo❤_

Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:

admin

www.insanitarian.com adalah Situs Nasional Seputar Dunia Kesehatan, Hygiene, Sanitasi, dan Kesehatan Lingkungan (Sumber Inspirasi & Referensi Dunia Kesehatan, Sanitasi Lingkungan, Entomologi, Mikrobiologi Kesehatan, dll.) yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House. Redaksi dengan senang hati menerima kiriman tulisan ilmiah dengan gaya penulisan secara populer. Panjang tulisan antara 8.000 -10.000 karakter.

3 komentar pada “Jangan Anggap Sepele Kecemasan Akibat Pandemi Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: