Info KesehatanMajalah InsideOpini

Menulis Sebagai Terapi Stress

“Menurut saya, proses menulis itu selain menuangkan ide dan minda (Malay: buah fikir), juga sebagai terapi karena dapat menuangkan emosi serta perasaan yang tertahan. Melepaskan stress dan segala gejolak jiwa melalui kalimat-kalimat itu menenangkan sekaligus menyenangkan. Karena tak semua unek-unek itu bisa kita komunikasikan secara lisan. Tulislah dan tumpahkan apa yang menjadi beban dan perasaan, jadikan ia abadi sebagai pembelajaran diri ke depan.”
Kemudian, kawan peneliti saya satu ini juga tidak kalah kece, bertempat tinggal di Pulau Borneo. Annida, ibu dua orang anak ini menguraikan menulis sebagai terapi sebagai berikut:
“Menulis bagi saya adalah sebagai memberikan kebebasan dalam “bersuara” yang “tak mampu didengar” oleh orang-orang yang “tak biasa mendengar”. Menulis juga memungkinkan untuk dapat memilah kata apa yang layak untuk dapat diterima oleh pembaca. Artinya kalau berbicara, kata-kata cenderung keluar tanpa dipikir, tetapi dengan menulis memberikan kesempatan untuk berpikir apakah sesuatu itu layak untuk disampaikan atau tidak.”
Partner in crime  saya ketika bertugas menjadi seorang pengawas filariasis di beberapa kesempatan di Indonesia tidak kalah unjuk suara tentang menulis. Dosen epidemiologi ini menjelaskan bahwa:
“Menulis artikel ilmiah, so far membantu melatih kemampuan mengungkapkan pemikiran secara sistematis. Saat tulisan kita diterima untuk dipublikasikan di suatu jurnal, berbagai rasa berpadu. Lega, senang, bangga, dan bahagia pemikiran kita bisa dibaca orang lain. Hati yang bahagia adalah obat.”
Peneliti senior Triwibowo Ambar Garjito yang telah menyelesaikan PhD-nya ikut nimbrung memberikan perspektifnya tentang manfaat menulis. 
“Menulis bisa membantu kita untuk mengurangi rasa cemas dan stress, meningkatkan rasa tenang, memperkuat daya ingat pada issue-issue tertentu, dan memberikan kepuasan batin.”
Salah satu Guru Besar di Indonesia Prof. Made Sudiana, begitu antusias ketika saya meminta masukannya terkait menulis sebagai terapi. Berikut komentarnya: 
“Saya kira menarik dan lagi ‘in’. Menulis membantu orang untuk fokus dan melupakan hal-hal yang tak perlu. Pepatah Cina mengatakan, Saya mendengar dan saya lupa, saya melihat dan saya ingat, saya menulis dan saya mengerti. Fungsi menulis untuk saraf, ketajaman berfikir, meningkatkan konsentrasi, dan membantu untuk cepat tidur”
Seorang Millennials Coach dan Training Manager, Ripan Karlianto tidak mau ketinggalan menyampaikan pendapatnya tentang menulis sebagai terapi. Berikut penuturannya:
“Menulis adalah ekspresi hati. Tidak mungkin seseorang bisa menulis, tanpa ada percakapan dalam hatinya. Dengan menulis, kita bisa melatih fokus. Inilah yang mendamaikan hati, mengarahkan akal, dan menjadi terapi. Maka menulislah, dan bebaskan diri Anda untuk berkreasi.”
Era mileneal yang serba instan ini, menyediakan begitu banyak media untuk mengekspresikan tulisan kita. Setiap saat, dimanapun dengan mudah kita bisa mempublikasikan tulisan kita. Apakah kemudian hal tersebut sebuah hal positif, bermanfaat, menginspirasi, atau menjadi terapi? Pilihan ada dijari-jemari semua kawan pembaca.
Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa mengubah. Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur. Menulislah, karena karena yakin tulisan kita bisa menemani. Menulislah, dengan keyakinan bahwa itu bisa mengubah, menghibur dan menemani. Jangan pedulikan jumlah komen, jumlah like, jumlah pengunjung,. Menulislah! Karena dunia ini akan jauh lebih baik jika semua orang pintar menulis, bukan pintar bicara. Menulislah!” (Tere Liye)8
Sumber                                                                             

1            Sendu SDD dan R. Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang. PT Gramedia Pustaka Utama.2020.

2            Pennebaker JW BS. Confronting a traumatic event. Toward an understanding of inhibition and disease. J Abnorm Psychol. 1986;95(3): 274.

3            Pennebaker. J. W. Writing about emotional expression as a therapeutic process. Psychol Sci. 1997; 8, (3),164.

4            https://www.webmd.com/depression/features/writing-your-way-out-of-depression#3.

5            Pennebaker, J. W., & Chung CK. Social cognition and communication. : Sydney: Psychology Press.2007.

6            https://www.webmd.com/depression/features/writing-your-way-out-of-depression#1.

7            Mugerwa, Soul JDH. Debate & Analysis Writing Therapy : a new tool for general practice? Br J Gen Pract.

8            https://aisyafra.wordpress.com/2014/02/07/mengapa-saya-menulis/.


Edisi Cetak Dimuat di: Buletin Inside Edisi 29 Volume XV Nomor 2 Desember 2020

❤oOo❤_

Untuk mendapatkan update tentang informasi terbaru dari www.Insanitarian.com, silahkan ikuti kami lewat media sosial di bawah ini:

Instagram: https://www.instagram.com/arda.dinata/

Facebook: https://web.facebook.com/Inspirasiarda

Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di  https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:

Silakan share informasi ini agar nilai manfaatnya bisa dirasakan para pembaca lainnya. Oke, saya tunggu juga tanggapannya di kolom komentar ya!

_❤oOo❤_

Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:

admin

www.insanitarian.com adalah Situs Nasional Seputar Dunia Kesehatan, Hygiene, Sanitasi, dan Kesehatan Lingkungan (Sumber Inspirasi & Referensi Dunia Kesehatan, Sanitasi Lingkungan, Entomologi, Mikrobiologi Kesehatan, dll.) yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House. Redaksi dengan senang hati menerima kiriman tulisan ilmiah dengan gaya penulisan secara populer. Panjang tulisan antara 8.000 -10.000 karakter.

One thought on “Menulis Sebagai Terapi Stress

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: