Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19
Alat ini berguna untuk mengukur tingkat saturasi oksigen dalam darah. Berupa alat kecil yang dipasangkan pada ujung jari. Pengukuran saturasi oksigen penting dalam diagnosa awal gejala berat Covid-19. Alat ini dapat dibeli melalui toko alat kesehatan dan tersedia di toko online dengan harga 100 ribu ke atas. Waspadai dan hubungi dokter jika tingkat saturasi oksigen darah di bawah 90%. Hal ini menandakan ada ketidakberesan pada pengikatan oksigen oleh darah di paru-paru. Sebaiknya dilakukan pengukuran saturasi oksigen darah pada pasien setiap hari untuk mengetahui kesehatannya. Untuk anggota keluarga lain dapat dilakukan dua hari sekali. Bersihkan alat dengan tisu beralkohol jika akan digunakan.
Gambar. Termometer dan fingertip pulse oximeter
Obat-Obatan, Apa Saja?
Selama isolasi mandiri 14 hari, dokter hanya memberikan resep obat-obatan bagi penderita saja. Sedangkan untuk anggota keluarga lain, dokter tidak memberikan obat apapun. Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien meliputi obat antiinflamasi dan alergi, antibiotik (levofloxacin), pereda demam dan batuk, obat maag, dan vitamin C. Obat ini diberikan oleh faskes tingkat pertama, klinik istri saya terdaftar yang kami kunjungi setelah mendapatkan hasil tes cepat reaktif. Faskes beberapa kali mengirimkan paket obat dan terakhir menyertakan resep dengan obat oseltamivir (antivirus untuk flu).
Selain obat-obatan yang diberikan oleh dokter tersebut, berbekal sedikit pengetahuan tentang kemampuan obat turunan quinine yang memiliki aktivitas antivirus dan ketersediaan obat yang saya miliki, saya memberanikan diri mengonsumsi obat primaquine tablet 15 mg. Obat ini saya berikan kepada istri, berharap dapat membantu penyembuhannya dan kepada anggota keluarga lain sebagai kemopropilaksis – pencegahan secara kimia terhadap infeksi penyakit.
Saya menyadari bahwa hingga detik ini, belum terbukti ada obat yang dapat menyembuhkan Covid-19 secara klinis. Beberapa obat masih diujicobakan dan dalam tahap uji klinis yang cukup lama. Akan tetapi, dari beberapa tulisan yang saya baca, bahwa terdapat beberapa obat kelompok quinine yang diajukan sebagai obat dan kemopropilaksis bagi Covid-19.2–4 Salah satu artikel yang menyebutkan bahaya klorokuin dan hidroksi klorokuin akan risiko aritmia jantung telah ditarik oleh Jurnal Lancet.5,6 Namun, terdapat juga beberapa literatur yang menyatakan bahwa klorokuin dan hidroksi klorokuin tidak dapat mencegah dan menyembuhkan Covid-19.7 Meskipun demikian, saya tidak dapat hanya berdiam diri tanpa berusaha dan menunggu keajaiban virus Sars-CoV2 yang terdapat pada salah satu anggota keluarga saya tidak menular ke anggota keluarga lain selama 14 hari isolasi mandiri ini.
Gambar. Satu-satunya obat yang saya konsumsi selama isolasi mandiri
Obat primaquine ini lebih rendah tingkat toksisitasnya terhadap tubuh dibandingkan klorokuin atau hidroksiklorokuin, obat yang digembar-gemborkan sebagai anti-Covid-19 yang merupakan senyawa sintetis dari kuinin. Selain itu, karena saya memiliki stok obat primaquine yang dulu saya gunakan untuk propilaksis malaria saat turun penelitian lapangan. Dan saya memutuskan menggunakannya.
Pengunaan primaquine ini tentu saya lakukan dengan hati-hati dan dengan risiko ditanggung sendiri karena tanpa resep dan pengawasan dokter. Membaca dengan teliti efek samping dan kontra indikasi yang tertera. Awalnya saya gunakan setengah dosis untuk mengetahui ada tidaknya efek samping hingga akhirnya saya minum 1 tablet per hari.
Suplemen dan Efek Placebo
Selain obat-obatan, kami mengonsumsi beberapa suplemen yang kami yakini memiliki efek baik terhadap tubuh. Suplemen ini beberapa kami dapatkan atas saran rekan, teman, dan sanak saudara. Beberapa suplemen tersebut diantaranya vitamin C, vitamin D, jamu Li Hua Qing Wen, minuman jahe, serta tablet hisap Degirol jika merasa sakit tenggorokan. Istri pun sering menggunakan olesan minyak kayu putih yang diyakini memiliki efek bagi Covid-19. Apakah suplemen, jamu, dan minyak oles ini memang berkhasiat? Atau hanya efek plasebo?
Ada sebuah artikel menarik mengenai efek plasebo dengan judul “The Power of Placebo Effect”, yang intinya bahwa secara ilmiah pada kondisi yang tepat efek plasebo sama efektifnya dengan pengobatan tradisional.8 Beberapa artikel jurnal pun menyatakan jika efek plasebo terkadang memiliki pengaruh positif dalam pemberian suplemen seperti vitamin.9 Hingga kini pengaruh pemberian suplemen multivitamin dan efek plasebo masih diperdebatkan.10
Sejatinya, kami tidak benar-benar tahu apakah obat-obatan dan suplemen yang kami konsumsi memang benar-benar memberi manfaat terhadap tubuh atau tidak dalam hubungan dengan penularan dan kesembuhan Covid-19. Karena memang Covid-19 merupakan penyakit baru yang belum diketahui obatnya. Bagi pasien, tidak jelas juga apakah obat-obatan yang diberikan oleh puskesmas, oseltamivir, primakuin, atau jamu serta vitamin yang dikonsumsi berperan dalam kesembuhan Covid-19 atau hanya karena daya tahan tubuh pasien yang bagus. Mungkin saja strain virus Sars-CoV2 yang menginfeksi rendah virulensinya. Atau bahkan, kombinasi beberapa atau semua hal tersebut saling menguatkan dalam kesembuhan dan mencegah penularan. Wallahu a’lam bishawab.
Tingkatkan Kebersihan
Penularan Covid-19 dipercaya terjadi melalui kontak langsung, kontak tidak langsung, dan droplet. Kontak langsung terjadi ketika orang terinfeksi karena bersentuhan langsung dengan pasien. Kontak tidak langsung, ketika orang terinfeksi melalui objek yang disentuh oleh pasien. Penularan droplet terjadi ketika orang terinfeksi dari partikel droplet mengandung virus. Mengingat hal tersebut, kebersihan lingkungan selama isolasi mandiri mutlak dilakukan.
Dalam menjaga kebersihan rumah kami, kebanyakan dilakukan oleh orang dewasa, termasuk istri sebagai pasien. Setiap pagi lantai rumah dipel dengan sabun pembersih lantai, tidak lupa permukaan furnitur dilap basah yang dicelup sabun. Istri membersihkan kamarnya dan mengumpulkan sampahnya sendiri. Saya melakukan desinfektan seluruh ruangan rumah.
Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19
Bagaimana dengan Anak-Anak?
Agak sulit memang untuk memberi pengertian kepada anak-anak untuk melakukan isolasi mandiri. Ini merupakan tantangan tersendiri. Usia anak kami yang 11, 7, dan 5 tahun dan adanya pembelajaran jarak jauh masih sangat membutuhkan kehadiran bimbingan ibunya. Penjelasan terutama kami berikan kepada anak terbesar dengan harapan dapat diikuti oleh adik-adiknya.
Tidak ada obat-obatan yang kami berikan kepada anak-anak. Tes usap Covid-19 pun hanya dilakukan sekali setelah hasil positif istri diketahui, dengan hasil semua negatif. Kami hanya memberikan suplemen tablet hisap vitamin C IPI dan bekal beberapa liter susu pasteurisas. Saya pun selalu memperhatikan kondisi anak-anak akan kemungkinan gejala demam, batuk, dan pilek. Alhamdulillah, hingga akhir isolasi mandiri tidak terlihat gejala apapun pada anak-anak.
Menjaga mental anak-anak sama dengan menjaga mental keluarga dan pasien. Untuk itu, dalam kondisi isolasi mandiri saya sedikit melonggarkan penggunaan gawai bagi mereka. Sesekali saya pun mengajak mereka bermain di halaman rumah agar tidak jenuh selalu berada di dalam rumah.
Akhir Isolasi Mandiri
Hingga 14 hari masa isolasi yang saya hitung dari awal hasil tes cepat reaktif dari istri, alhamdulillah tidak ada gejala berat yang dirasakan. Meski beberapa kali merasa demam, batuk, pusing, dan sakit tenggorokan, namun tanda-tanda pengukuran termometer dan oximeter masih dalam rentang normal. Beberapa gejala yang dirasakan itu akhirnya hilang dengan sendirinya bersamaan dengan berbagai usaha yang saya jelaskan sebelumnya. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain.
Mengingat tidak ada lagi fasilitas pemeriksaan setelah isolasi mandiri oleh puskesmas, saya dan asisten rumah tangga melakukan tes cepat mandiri ke laboratorium klinik dengan hasil nonreaktif. Adapun istri akan melakukan tes usap difasilitasi kantor tempat bekerjanya. Jika istri dilakukan tes cepat Covid-19, dipastikan hasilnya reaktif karena antibodi terhadap virus masih bersirkulasi dalam tubuh meskipun virus sudah hilang. Anak-anak saya putuskan tidak perlu dilakukan tes kembali karena tidak ada gejala sama sekali.
Patut diingat, hal-hal yang saya sampaikan pada tulisan ini sepenuhnya pendapat dan pengalaman pribadi serta tidak mewakili pendapat institusi tempat saya bekerja. Dalam menjalani isolasi mandiri pembaca harus mengikuti protokol isolasi mandiri sesuai yang disampaikan Kementerian Kesehatan dan petugas kesehatan. Beberapa tips mengenai obat dan suplemen yang saya sampaikan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter yang merawat. Mengikuti tips ini tanpa pengawasan dan konsultasi dokter berarti menanggung segala risikonya sendiri. Semoga kita senantiasa sehat dan pandemi Covid-19 segera berakhir.
Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19
Sumber
1. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/REV-05_Pedoman_P2_COVID-19_13_Juli_2020_1.pdf
2. https://www.eyereports.org/index.php/eyereports/article/view/99
3. Savarino A, Boelaert JR, Cassone A, Majori G, Cauda R. Effects of chloroquine on viral infections: An old drug against today’s diseases? Vol. 3, Lancet Infectious Diseases. Lancet Publishing Group; 2003. p. 722–7.
4. http://virologyj.biomedcentral.com/articles/10.1186/1743-422X-2-69
5. Mehra MR, Ruschitzka F, Patel AN. Retraction—“Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis” (The Lancet, (S0140673620311806), (10.1016/S0140-6736(20)31180-6)) [Internet]. Vol. 395, The Lancet. Lancet Publishing Group; 2020 [cited 2020 Oct 11]. p. 1820.
6. Zedde M, Cavallieri F. Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis – eanpages.
7. Hoffmann M, Mösbauer K, Hofmann-Winkler H, Kaul A, Kleine-Weber H, Krüger N, et al. Chloroquine does not inhibit infection of human lung cells with SARS-CoV-2. Nature [Internet]. 2020 Sep 24 [cited 2020 Oct 11];585(7826):588–90. Available from: https://doi.org/10.1038/s41586-020-2575-3
8. Thttps://www.health.harvard.edu/mental-health/the-power-of-the-placebo-effect
9. Hemilä H. Vitamin C, the placebo effect, and the common cold: A case study of how preconceptions influence the analysis of results. J Clin Epidemiol [Internet]. 1996 Oct 1 [cited 2020 Oct 11];49(10):1079–84.
10. https://thehill.com/opinion/healthcare/429800-are-dietary-supplements-for-real-or-just-placebos
Edisi Cetak Dimuat di: Buletin Inside Edisi 29 Volume XV Nomor 2 Desember 2020
❤oOo❤_
Untuk mendapatkan update tentang informasi terbaru dari www.Insanitarian.com, silahkan ikuti kami lewat media sosial di bawah ini:
Instagram: https://www.instagram.com/arda.dinata/
Facebook: https://web.facebook.com/Inspirasiarda
Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:
Silakan share informasi ini agar nilai manfaatnya bisa dirasakan para pembaca lainnya. Oke, saya tunggu juga tanggapannya di kolom komentar ya!
_❤oOo❤_
Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:
- Biokimia
- Buku Kesehatan Lingkungan
- Dasar Kesling
- Entomologi
- Hyperkes
- Iklan
- Info Kesehatan
- Inspirasi Sanitarian
- Jurnal Kesehatan Lingkungan
- Kesehatan Lingkungan
- Lingkungan Fisik
- Majalah Inside
- Mikrobiologi
- Opini
- Parasitologi
- Pembuangan Tinja & Air Limbah
- Pengelolaan Sampah
- Pengembangan Profesi
- Penyehatan Air Minum
- Peraturan
- Promkes
- Renungan
- Rumah Sehat
- Sanitasi Makanan
- Sanitasi Rumah Sakit
- Sanitasi Tempat Umum
- Teknologi Tepat Guna
- Vektor dan Binatang Pengganggu

Pingback: DAFTAR ARTIKEL KESEHATAN - Inspirasi Sanitarian
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks! https://www.binance.com/register?ref=IXBIAFVY
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.