Info KesehatanMajalah InsideOpini

Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19

Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19

“Manusia hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan”. Mungkin ini merupakan kutipan yang pas mengenai tulisan ini.

Oleh M. Umar Riandi

“Manusia hanya bisa berencana, Allah-lah yang menentukan”. Mungkin ini merupakan kutipan yang pas mengenai tulisan ini.

Pada akhir September 2020, salah satu anggota keluarga kami positif Covid-19. Melalui tulisan ini saya coba merangkum dan memberikan beberapa tips hingga kami berhasil melalui isolasi mandiri selama 14 hari di rumah tanpa anggota keluarga lain tertular. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana virus ini masuk ke dalam tubuh. Kita hanya dapat bersiap menghadapinya. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi lainnya.

Ingat, Semua Berisiko Tertular Covid-19

Sebagai pegawai yang masih melakukan kegiatan bekerja di kantor, saya dan keluarga tentunya memiliki kekhawatiran tentang Covid-19. Berbagai pemberitaan tentang hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi kebiasaan kita sehari-hari, semakin waspada dan patuh terhadap protokol kesehatan yang dianjurkan. Meskipun anak-anak kami belajar di rumah, namun saya dan istri masih bekerja di kantor. Asisten rumah tangga kami pun masih melakukan aktivitas berbelanja di penjual sayur keliling dan minimarket. Orangtua saya pun terkadang masih mengunjungi anak-anak dikala senggang. Jadi dapat disimpulkan risiko penularan Covid-19 di keluarga kami masih ada, selama aktivitas sehari-hari tidak benar-benar dibatasi.

Pemerintah memutuskan untuk tidak kembali memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun dengan skala mikro dan menyerukan kewajiban mematuhi protokol kesehatan di semua sektor kegiatan agar ekonomi tetap bergerak. Imbasnya, kita harus terus beraktivitas dan bersiap diri jika ternyata virus tersebut menjangkiti tubuh. Mau tidak mau, kita sendiri yang harus dapat menjaga diri masing-masing,  waspada, patuh terhadap protokol kesehatan, mendapatkan informasi valid tentang Covid-19, serta mempersiapkan segala kemuingkinan. Termasuk kemungkinan terburuk.

Tes Cepat Covid-19 Mandiri

Pengalaman kami menghadapi Covid-19 bermula ketika istri melakukan tes cepat Covid-19 (rapid test) secara mandiri setelah sebelumnya melaksanakan dinas luar. Hal ini dilakukan karena akan melaksanakan tugas luar kota kembali beberapa hari kemudian. Biaya yang cukup terjangkau kami menjadi faktor utama pemilihan tes cepat ini dibandingkan tes usap (swab test) untuk Covid-19. Hasilnya pun segera kami dapatkan 1 jam setelahnya. Tes usap Covid-19 kami lakukan di laboratorium klinik mandiri di kota kami.

Alangkah kagetnya kami setelah mendapatkan hasil reaktif IgG dan IgM Covid-19. Seolah tidak percaya, istri mempertanyakan adakah kemungkinan hasil tes ini salah, mengingat istri hanya memiliki gejala flu ringan. Saya jawab memang ada kemungkinan hasil tes cepat positif palsu atau negatif palsu. Guna meyakinkan hal tersebut, diperlukan uji usap Covid-19 yang mendeteksi keberadaan virus tersebut dalam tubuh. Saya tidak melakukan tes cepat Covid-19 mandiri karena tiga hari sebelumnya telah dites di kantor dengan hasil nonreaktif. Juga anggota keluarga lain tidak dites karena istri baru satu hari kontak dengan anggota keluarga lain di rumah.

Tes Usap Covid-19

Setelah mendapatkan hasil tes cepat Covid-19 reaktif, kami berusaha mencari laboratorium yang dapat melakukan tes usap (swab test) Covid-19. Namun, ternyata laboratorium klinik mandiri dan juga layanan laboratorium rumah sakit yang melayani tes usap tutup pada hari sabtu-minggu. Kami harus menunggu hari senin untuk dapat melakukan tes usap.

Akhirnya, karena kami peserta bpjs, kami memutuskan untuk mengunjungi faskes tingkat pertama tempat istri terdaftar. Faskes tingkat pertama ini berupa klinik pratama yang buka pada sabtu hingga pukul 16.00. Pilihan kami tepat, karena melalui faskes pertama ini istri mendapat rujukan untuk dilakukan uji usap Covid-19 gratis di puskesmas domisili. Selain itu, data istri reaktif tes cepat Covid-19 tercatat ke dalam data gugus tugas Covid-19 di kota kami tinggal. Istri diperbolehkan pulang dan mendapatkan resep obat.

BACA JUGA:  Meningkatkan Kualitas Udara

Selang beberapa jam, dokter puskesmas dekat rumah mengontak istri. Meminta kronologi aktivitas beberapa hari sebelumnya dan menjadwalkan tes usap Covid-19 di puskesmas tiga hari ke depan. Setelah tes usap Covid-19, pihak puskesmas menjanjikan hasil akan diberikan setelah 3-7 hari. Selama menunggu, istri dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah.

Setelah 3 hari, petugas puskesmas menyampaikan jika hasil tes usap Covid-19 istri saya postif. Selanjutnya keesokan harinya, saya, asisten rumah tangga, dan 3 anak saya dijadwalkan untuk dilakukan tes usap Covid-19 di puskesmas. Alhamdulillah, hasil tes kami negatif. Akan tetapi, kami tetap harus dapat melalui ujian isolasi mandiri satu rumah.

Isolasi Mandiri = Isolasi Kamar

Sejak hasil tes cepat menunjukkan istri reaktif Covid-19, saya memutuskan agar seisi rumah melakukan isolasi mandiri. Saya meminta istri untuk berdiam diri di dalam kamar, keluar kamar jika ada perlu, dan mengenakan masker jika keluar kamar. Alat makan dan minum istri dipisahkan. Saya mengkondisikan anak-anak agar tidak banyak berinteraksi dengan ibunya. Hal ini saya lakukan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, meskipun hasil tes usap istri waktu itu belum kami dapatkan.

Dari beberapa berita, saya mendengar banyak pasien isolasi mandiri yang akhirnya menularkan ke beberapa anggota keluarga lainnya. Isolasi mandiri bukanlah hanya berdiam diri di rumah saja. Ada beberapa batasan yang harus dilakukan oleh pasien Covid-19 dalam melakukan isolasi mandiri yang baik. Nampaknya, pada banyak kasus, pasien Covid-19 dan keluarga abai terhadap protokol isolasi mandiri yang berujung terbentuknya klaster-klaster rumah dari pasien isolasi mandiri tersebut.

Sebenarnya Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan protokol isolasi mandiri yang tercantum pada buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19) revisi 5 yang diterbitkan pada Juli 2020.1 Berikut poin-poin dari protokol isolasi mandiri tersebut beserta penjelasan hal-hal yang kami lakukan sesuai poin tersebut.

  1. Tempatkan  pasien/orang  dalam  ruangan  tersendiri  yang memiliki  ventilasi  yang  baik  (memiliki  jendela  terbuka,  atau pintu terbuka).
  2. Batasi  pergerakan  dan  minimalkan  berbagi  ruangan  yang sama.  Pastikan  ruangan  bersama  (seperti  dapur,  kamar mandi) memiliki ventilasi yang baik.
  3. Anggota  keluarga  yang  lain  sebaiknya  tidur  di  kamar  yang berbeda,  dan  jika  tidak  memungkinkan  maka  jaga  jarak minimal 1 meter dari pasien (tidur di tempat tidur berbeda).

“Saya menempatkan istri pada satu kamar terpisah untuk isolasi mandiri. Kamar tersebut memiliki ventilasi yang cukup dan dibuka pagi hingga sore hari. Pada siang hari seluruh jendela rumah kami buka. Malam hari, jendela ditutup dan kipas exhaust di dapur dinyalakan agar udara senantiasa mengalir dalam rumah”.

  • Batasi  jumlah  orang  yang  merawat  pasien.  Idealnya  satu orang  yang  benar-benar  sehat  tanpa  memiliki  gangguan kesehatan  lain  atau  gangguan  kekebalan. Pengunjung/penjenguk tidak diizinkan sampai pasien benar-benar sehat dan tidak bergejala.

“Selama isolasi mandiri istri masih mampu beraktivitas dan kami melarang siapapun mengunjungi kami”.

  • Lakukan hand hygiene (cuci tangan) segera setiap ada kontak dengan pasien atau lingkungan pasien. Lakukan cuci tangan sebelum dan setelah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah  dari  kamar  mandi,  dan  kapanpun  tangan  kelihatan kotor.  Jika  tangan  tidak  tampak  kotor  dapat  menggunakan handsanitizer,  dan  untuk  tangan  yang  kelihatan  kotor menggunakan air dan sabun.
  • Jika  mencuci  tangan  menggunakan  air  dan  sabun,  handuk kertas sekali pakai direkomendasikan. Jika tidak tersedia bisa menggunakan  handuk  bersih  dan  segera  ganti  jika  sudah basah.
BACA JUGA:  Standar Kompetensi Sanitarian dan Media Lingkungan

“Kami membiasakan anak-anak mencuci tangan setelah beraktivitas, sebelum dan setelah makan. Keberadaan wastafel dalam rumah sangat membantu kepatuhan hand hygiene ini”.

  • Pasien  menggunakan  masker  bedah  jika  berada  di  sekitar orang-orang yang berada di rumah atau ketika mengunjungi fasyankes  untuk  mencegah  penularan melalui  droplet.  Anak berusia  2  tahun  ke  bawah  tidak  dianjurkan  menggunakan masker.
  • Orang  yang  memberikan  perawatan  menggunakan  masker bedah  terutama  jika  berada  dalam  satu  ruangan  dengan pasien. Masker tidak boleh dipegang selama digunakan. Jika masker  kotor  atau  basah  segera  ganti  dengan  yang  baru. Buang  masker  dengan  cara  yang  benar  (jangan  disentuh bagian  depan,  tapi  mulai  dari  bagian  belakang  dengan memegang  tali  masker).  Buang  masker  bedah  segera  dan segera cuci tangan.
  • Gunakan  sarung  tangan  dan  masker  bedah  jika  harus memberikan perawatan mulut  atau saluran nafas dan ketika kontak  dengan  darah,  tinja,  air  kencing  atau  cairan  tubuh lainnya  seperti  ludah,  dahak,  muntah  dan  lain-lain.  Cuci tangan sebelum dan sesudah membuang sarung tangan dan masker.
  • Jangan  gunakan  masker  atau  sarung  tangan  yang  telah terpakai.

“Sejak awal isolasi mandiri, saya meminta istri mengenakan masker media saat keluar kamar dan menjaga jarak dengan anggota keluarga lain. Tidak ada perawatan khusus dan penggunaan sarung tangan”.

  1. Pisahkan alat makan untuk pasien (cuci dengan sabun dan air hangat setelah dipakai agar dapat digunakan kembali).
  2. Bersihkan  permukaan  di  sekitar  pasien  termasuk  toilet  dan kamar  mandi  secara  teratur.  Sabun  atau  detergen  rumah tangga  dapat  digunakan,  kemudian  larutan  NaOCl  0.5% (setara dengan 1 bagian larutan pemutih dan 9 bagian air).

“Peralatan makan yang masih digunakan istri berada di kamarnya dan jika sudah tidak digunakan langsung dicucinya. Adapun peralatan mandi, sikat gigi dipisahkan. Istri menggunakan sabun cair terpisah dari lainnya. Setiap mandi istri menuangkan antiseptik cair (dettol) ke dalam ember mandi dan menggunakan air hangat. Sesekali istri berkumur antiseptik (Listerine) setelah gosok gigi. Anggota keluarga lain sesekali menuangkan antiseptik cair saat mandi dan berkumur antiseptik”.

“Saya membeli sprayer bertekanan 1 liter untuk desinfektan rumah dan kamar. Dengan perbandingan air dan larutan sodium hipoklorit (bayclin) 1:9 hingga 4:6. Istri menyemprotkan cairan desinfektan di kamar hampir setiap hari. Untuk seluruh rumah, saya lakukan 2-3 hari sekali karena membuat lembab furnitur, tempat tidur, dan membasahi seluruh ruangan”.

  1. Cuci  pakaian,  seprai,  handuk,  masker  kain  pasien menggunakan  sabun  cuci  rumah  tangga  dan  air  atau menggunakan  mesin  cuci  dengan  suhu air 60-900C dengan detergen  dan  keringkan.  Tempatkan  pada  kantong  khusus dan  jangan  digoyang-goyang,  dan  hindari  kontak  langsung kulit dan pakaian dengan bahan-bahan yang terkontaminasi. Menggunakan  sarung  tangan  saat  mencuci  dan  selalu mencuci tangan  sebelum  dan setelah menggunakan  sarung tangan.
  2. Sarung  tangan,  masker  dan  bahan-bahan  sisa  lain  selama perawatan harus dibuang di tempat sampah di dalam ruangan pasien yang kemudian ditutup rapat sebelum dibuang sebagai kotoran infeksius.
  3. Hindari  kontak  dengan  barang-barang  terkontaminasi  lainya seperti  sikat  gigi,  alat  makan-minum,  handuk,  pakaian  dan sprei.
  4. Ketika petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan rumah,  maka  selalu  perhatikan  APD  dan  ikut  rekomendasi pencegahan penularan penyakit melalui droplet.

“Istri di kamar mengumpulkan sampah sendiri dalam kantung plastik dan langsung membuangnya di tempat sampah di luar rumah. Beberapa protokol isolasi mandiri tidak kami ikuti karena sulit dilakukan dan saya anggap hanya berlaku untuk pasien dengan gejala berat”.

Sesekali istri tidak berdiam diri di kamar, keluar kamar berbincang dengan anak-anak dan ke halaman rumah mengusir rasa jenuh. Kami tetap menjaga jarak dan sedapat mungkin mengikuti petunjuk protokol isolasi mandiri ini. Keberadaan 3 kamar tidur di rumah kami, lebih mudah menaati protokol tersebut semaksimal mungkin. Bagi yang tidak memiliki kamar tersendiri bagi pasien isolasi mandiri, saya sarankan untuk mencari alternatif lain, seperti menitipkan anggota keluarga lain ke sanak saudara terdekat. Meskipun pada protokol isolasi mandiri memberi alternatif tidur sekamar pada jarak minimal 1 meter dari pasien, menurut saya risiko penularannya masih sangat besar. Sebaiknya pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat harus memberikan solusi untuk hal ini.

BACA JUGA:  Pengendalian Polutan Mikro dari Kotoran Manusia

Dengan mengikuti protokol isolasi mandiri ini, mungkin beberapa orang merasa sudah cukup. Namun, pada tulisan kali ini saya akan menyampaikan beberapa tips yang kami lakukan hingga dapat melewati masa isolasi mandiri. Berbekal sedikit pengetahuan menggunakan produk-produk kesehatan yang dapat diperoleh di swalayan, apotek terdekat, dan toko online. Suatu hal yang pembaca mungkin dapat terapkan juga ketika menghadapi kondisi yang serupa.

Anda Positif Covid-19, Jangan Panik dan Jaga Mental

Hal pertama yang terpikir oleh pasien saat mengetahui dirinya positif Covid-19, tentunya kebanyakan mengenai hal-hal buruk yang dapat terjadi padanya. Hal ini tidak terelakkan juga terjadi pada istri. Overthinking terhadap hal-hal buruk yang dapat terjadi sedikit menurunkan mental selama isolasi mandiri. Hal ini dapat dihindari dengan sikap anggota keluarga lain yang menghadapi hal ini dengan kepala dingin dan optimis. Memaksimalkan usaha dan berdo’a mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa merupakan hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menjaga mental optimis menghadapi kondisi ini.

Mengabari mengenai kondisi keluarga kepada sanak-saudara, rekan kerja, dan Ketua Rukun Tetangga dilingkungan rumah merupakan hal penting yang harus dilakukan. Tentunya dengan meminta mereka untuk tidak menyebarluaskan data pribadi kita. Hal ini dilakukan agar orang-orang terdekat waspada kemungkinan adanya kasus kontak, serta paham keadaan keluarga dan memberi dukungan. Dukungan dari semua pihak sangat membantu melewati masa isolasi mandiri ini.

Persiapan Peralatan Tempur

Man is a tool-using animal. Without tool s he is nothing, with tools he is all – Thomas Carlyle

Dalam menghadapi isolasi mandiri Covid-19, kita memerlukan beberapa alat yang menurut saya berguna dalam melakukan monitoring perkembangan tingkat keparahan penyakit Covid-19 pada pasien dan anggota keluarga lainnya. Hal ini sangat penting, karena dengan alat yang tepat, kita tidak perlu lagi menerka-nerka keadaan kondisi kesehatan kita. Terlebih gejala Covid-19 yang beragam, sedikit perubahan tubuh membuat paranoid dan overthinking yang berujung pada turunnya kondisi mental.

Apa saja alat yang diperlukan? Sedikitnya selama isolasi mandiri kita memerlukan alat termometer dan finger tips pulse oximeter.

  1. Termometer suhu badan

Termometer berguna untuk mengetahui suhu tubuh, memantau kondisi demam. Karena memantau suhu tubuh dengan mengandalkan telapak tangan sendiri atau orang lain sangat tidak akurat. Waspada jika suhu tubuh naik hingga diatas 38OC. Hubungi dokter puskemas yang memantau jika kondisi berlanjut. Saya menganjurkan menggunakan termometer suhu badan digital, bukan termometer digital infrared gun. Jangan lupa persediaan baterai cadangan jikalau baterai termometer habis.

  • Fingertip Pulse Oximeter

admin

www.insanitarian.com adalah Situs Nasional Seputar Dunia Kesehatan, Hygiene, Sanitasi, dan Kesehatan Lingkungan (Sumber Inspirasi & Referensi Dunia Kesehatan, Sanitasi Lingkungan, Entomologi, Mikrobiologi Kesehatan, dll.) yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House. Redaksi dengan senang hati menerima kiriman tulisan ilmiah dengan gaya penulisan secara populer. Panjang tulisan antara 8.000 -10.000 karakter.

One thought on “Protokol Isolasi Mandiri Beserta Tips-Tips dari Keluarga Penyintas Covid-19

Tinggalkan Balasan

error: