Info KesehatanKesehatan LingkunganLingkungan FisikOpini

Kelapa, Sambu Group dan Keberlanjutan Indonesia

Kelapa, Sambu Group dan keberlanjutan Indonesia merupakan tiga komponen kata yang saling terkait. Inilah tiga komponen yang harus disadari semua komponen bangsa yang terlibat dalam dunia perkelapaan di Indonesia. Apa buktinya?

Kelapa, Sambu Group dan Keberlanjutan Indonesia

Oleh: Arda Dinata

KELAPA sumber kehidupan di Indonesia. Lambaian kelapa yang memiliki nama latin Cocos nucifera L. ini, menghiasi daerah pesisir pantai yang tersebar di daerah subur Indonesia.

Sejauh mata memandang terlihat daging-daging buah kelapa yang sedang dikeringkan. Aroma khas yang keluar dari daging buah kelapa yang sedang dijemur itu membangkitkan selera tersendiri. Jujur, ibarat sumber air, bagi saya kelapa itu telah menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang di tanah air. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi kelapa nasional mencapai 2,85 juta ton pada 2021.

Seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Tepatnya, bagian kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan meningkatkan kualitas fisik manusia, antara lain dimanfaatkan pada bidang kecantikan, kosmetika, dan hasil olahannya bagi kehidupan dan kesehatan manusia.

Adanya fakta tersebut, pantas saja Indonesia ini menjadi salah satu negara yang mampu mengekspor berbagai olahan kelapa. Apalagi, buah kelapa Indonesia itu memiliki kualitas baik. Ini yang menjadi faktor utama alasan negara lain mendatangkan kelapa dari Indonesia. Selain itu, kelapa Indonesia juga mampu menghasilkan produk turunan baru yang inovatif.

Lewat tulisan singkat ini, saya mencoba menguraikan seputar filosofi kelapa dan bagaimana mengoptimalisasikan keberadaan kelapa di masyarakat. Termasuk bahasan lainnya terkait bagaimana semangat dari perusahaan Sambu Group dalam membangun keberlanjutan Indonesia itu lewat aneka produksi keberlanjutan produk olahan kelapa yang tidak melupakan petani kelapa dan kelestarian lingkungan sekitarnya.

Kelapa, Sambu Group dan Keberlanjutan Indonesia
Perusahaan Sambu Group mencoba untuk menumbuhkan lebih banyak peluang mengubah lahan gambut yang tidak layak huni dan tandus menjadi lahan yang subur. Yakni dengan pendekatan sistem kanalisasi (Foto: Dok Sambu Group).

Filosofi dan Optimalisasi Kelapa

Kelapa ini termasuk jenis palma yang biasa tumbuh di ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Batang kelapa begitu ramping relatif lurus, memiliki tinggi antara 10-14 meter dan tidak bercabang. Bahkan, tinggi pohon kelapa ini bisa mencapai 30 meter, dengan buah 80-120 buah per pohon per tahun.

Bila kita dokumentasikan, daun kelapa ini terlihat melambai-lambai indah ditiup angin. Wujud daunnya berpelepah dan bersirip genap dengan panjang mencapai 2-3 meter. Inilah pohon yang kaya manfaat. Umur pohon kelapa bisa mencapai 100 tahun dengan usia produktif sekitar 30 tahun. Selama itu pula, sungguh luar biasa pohon kelapa ini bisa bermanfaat untuk manusia.

Manfaatnya begitu nyata, kelapa memiliki sabut tebal dan batok keras, berisi air dan daging yang mengandung santan. Air kelapa dan buah mudanya yang bulat berbentuk kerucut terbungkus serabut tebal dan bergaris tengah sekira 25 cm itu, tentu akan terasa sangat nikmat bila disantap saat terik matahari ada di atas kepala.

Secara umum, ciri pohon kelapa ini memiliki rangkaian akar serabut yang kuat, batang ramping tegak dan tidak bercabang, daun berpelepah, dan sirip-sirip lidi menopang daun. Pohon kelapa ini, selain memiliki kontribusi dalam meningkatkan pendapatan ekonomi, ternyata pohon kelapa ini banyak memiliki makna untuk dijadikan pegangan hidup.

Kelapa itu tumbuhan serba guna, dari akar sampai buahnya bisa dimanfaatkan. Artinya setiap manusia itu bisa belajar dari pohon kelapa, yaitu harus berguna, bisa diandalkan, dan membuktikan dirinya mampu berbakti pada tanah air, bangsa, negara, dan seluruh manusia di dunia.

BACA JUGA:  Nutrisi Gaya Hidup Sehat

Untuk itu, tidak berlebihan lambang tunas kelapa ini menjadi lambang gerakan pramuka. Artinya, lambang buah nyiur yang tumbuh itu mengkiaskan, bahwa tiap anggota pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Bahkan, keberadaan buah nyiur itu dapat bertahan lama dalam keadaan apa pun.

Buktinya, pohon kelapa merupakan tanaman yang paling banyak dibudidayakan secara ekstensif, tumbuh, dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Untuk itu, tidak heran keberadaan pohon kelapa yang syarat manfaat itu, bisa tumbuh dan dibudidayakan di berbagai negara tropis.

Paling tidak, ada 94,64% produksi pohon kelapa itu datang dari kawasan Asia Pasifik. Wilayah Indonesia sendiri memiliki luas perkebunan dan produksi kelapa terbesar, diikuti oleh Filipina dan India.

Luas tanaman kelapa di Indonesia ini tidaklah sempit, bahkan sebaran tanaman yang kaya filosofi ini telah mencapai 3.728.600 hektar. Sungguh potensi yang luar biasa bila mampu diberdayakan. Secara produksi, tercatat produksi kelapa mencapai 15,4 miliar butir atau setara 3,2 juta ton kopra (daging buah yang dikeringkan). Dalam hal ini, Indonesia tampil sebagai pemasok utama komoditas kelapa di pasar dunia.

Arti lainnya, produktivitas kelapa di Indonesia ini masih kurang dari 1 ton/ha. Bahkan, lebih rendah dari Filipina yang sudah mencapai 2 ton/ha. Padahal, merujuk pada riset bidang pertanian menyebutkan kalau produktivitas kelapa yang dihasilkan petani dalam negeri ini masih mampu mencapai 2 ton/ha (Patty Zeth; 2012).

Kondisi rendahnya produktivitas tersebut, disebabkan banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak. Sekitar 98,25% merupakan perkebunan rakyat dengan kepemilikan lahan terbatas, pemanfaatannya belum optimal, dan penerapan teknologi yang digunakan belum betul-betul diterapkan, serta pemanfaatan produk hilir maupun hasil sampingan pohon kelapa yang belum banyak dilakukan.

Itulah potensi pohon kelapa yang harus bisa dimanfaatkan secara maksimal. Baik secara nilai ekonomis maupun makna yang dikandungnya untuk kehidupan yang lebih baik dan menuju keberlangsungan Indonesia dalam percaturan perekonomian di dunia.

Tepatnya, optimalisasi pemanfaatan pohon kelapa tersebut telah menjadi peluang dan tantangan tersendiri bagi perusahaan Sambu Group yang bergerak dalam pemberdayaan budidaya pohon kelapa dan pemanfaatannya lewat payung gagasan berupa: “Sambu Group Semangat Bersama Untuk Indonesia.” 

Semangat Sambu Group

Semangat Sambu Group untuk Indonesia ini berawal dari berdirinya PT. Pulau Sambu yang didirikan sebagai sebuah perusahaan (tahun 1967). Warisan pertama kali dimulai dengan aura semangat kepeloporan Mr. Tay Juhana (almarhum). Pendiri kelahiran Singapura ini mulai berkelana ke Kuala Tungkal Indonesia di Provinsi Jambi.

PT. Pulau Sambu (Dok. Sambu Goup)

Akhirnya, ia menambatkan hati dan jiwanya untuk membangun sebuah yayasan yang inovatif dan inklusif secara sosial. Dia kemudian memilih untuk mengadopsi kewarganegaraan Indonesia dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk bisnis dan rakyatnya.

Secara filosofis, Mr. Tay mengakui ada keselarasan antara sifat bisnis yang dilakukannya dengan dinamika sosial di masyarakat. Dalam pikirannya, ia membayangkan sebuah perusahaan yang holistik dalam semua aspek dan berusaha untuk membangun sebuah perusahaan yang secara bersamaan akan menguntungkan petani, mitra bisnis, pelanggan dan ibu pertiwi sendiri (kondisi tanah air Indonesia). 

Visi dan strategi yang ditetapkan Mr. Tay adalah untuk masa depan yang lebih baik. Bahkan dari pondasi perusahaan, menjauhkannya dari tren arus utama perusahaannya. Justru, ia malah memasuki wilayah yang belum dipetakan perusahaan sebelumnya yang penuh peluang dan tantangan itu.

BACA JUGA:  Jangan Anggap Sepele Kecemasan Akibat Pandemi Covid-19

Ia memiliki ambisi mulia untuk memberikan keberlanjutan bagi kehidupan dan masa depan masyarakat secara keseluruhan. Keinginan terdalamnya adalah menjadi anggota komunitas yang berkontribusi, yang akan membantu membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Selama enam dekade yang panjang, Mr. Tay mengembangkan visinya dan beberapa telah menjadi kenyataan. Semangat kepeloporannya memimpin seluruh industri kelapa ke tingkat yang lebih tinggi dan mengembangkan sistem yang melampaui apa pun sebelumnya. Yaitu, sebuah model bisnis baru dikembangkan dari perdagangan kopra ke penggilingan kopra, yang merupakan pendirian yang belum pernah terjadi sebelumnya di daerah tersebut pada waktu itu. 

Dalam situs resminya https://sambugroup.com/ disebutkan, dia merevolusi seluruh proses, mengirimkan riak upaya inovatifnya ke berbagai penjuru dunia di bawah bendera inovasi Sambu Group untuk tak henti-hentinya berusaha memperluas jangkauannya dalam menciptakan hasil yang berarti bagi masyarakat. Usahanya segera mengakar dan berkembang menjadi Sambu Group seperti yang kita kenal sekarang. 

PT. Pulau Sambu (Kuala Enok) (Dok. Sambu Goup)

Sampai hari ini, Sambu Group memperingati dan hidup dengan visi dan strateginya, mendorong perusahaan untuk berjalan di jalan yang belum dilalui untuk mencari peluang yang lebih baik. Berawal pada tahun 1967 sebagai pabrik pengolahan minyak kelapa pertama milik Sambu Group, yang memproduksi minyak kelapa mentah, minyak kelapa yang diputihkan dan dihilangkan baunya. Bahkan, tidak ketinggalan expeller kopra untuk pasar ekspor sesuai standar internasional di bawah nama PT. Pulau Sambu (Kuala Enok).

Berkembang lagi, pada tahun 1983, dibangun pabrik khusus untuk produk hilir yang canggih seperti santan/krim, bubuk santan kelapa, kelapa kering, air kelapa dan arang tempurung kelapa dalam bendera PT. Pulau Sambu (Guntung).

Perkembangan selanjutnya, diproduksilah dengan melakukan pendekatan menggunakan teknologi Ultra High Temperature (UHT) berupa krim kelapa kemasan yang dipasarkan dengan merek dagang Kara. Ini termasuk pelopor di dunia, sebab krim kelapa kemasan ini belum pernah ada sebelumnya. Jadi, produk Kara itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sambu Group.

PT. Riau Sakti United Plantations mendirikan pabrik produksi nanas (Dok. Sambu Goup)

Baru, dua puluh enam tahun kemudian, atas inisiatif dan semangat inovasi dari pendiri perusahaan ini (Mr Tay), mendirikan pabrik pengolahan dan perkebunan kelapa ketiga bernama PT. Riau Sakti United Plantations (1993). Dampaknya, Sambu Group mampu meningkatkan volume produksi untuk pemenuhan pasar global.

Memasuki tahun 1995, PT. Riau Sakti United Plantations mendirikan pabrik produksi nanas yang mengolah nanas kalengan hasil dari sela-sela kebun kelapa dan baru tahun 1999 membuat konsentrat jus nanas. Proses perluasan ini, akhirnya membantu melahirkan varian produksi kelapa, yaitu santan/krim kelapa dalam kaleng.

Sejarah baru bagi Sambu Group terjadi tahun 2016 dengan mendirikan perusahaan bernama Pulau Sambu Singapore PTE LTD. Perusahaan ini merupakan cabang pemasaran untuk lebih memperluas jangkauan pasar hasil produksinya ke seluruh dunia. Harapannya, tidak lain dapat lebih berkontribusi pada pengembangan masyarakat petani kelapa.

Sambu Group terjadi tahun 2016 dengan mendirikan perusahan bernama Pulau Sambu Singapore PTE LTD. (Dok. Sambu Goup)

Sampai saat ini Sambu Group terus melakukan inovasi. Salah satu yang dikedepankan ialah budidaya kelapa di perkebunan dilakukan secara alami dan tidak dimodifikasi secara artifisial.

Arti lainnya, setiap kelapa itu memiliki bentuk dan ukurannya masing-masing dan variasi ini menjadikan operator manusia satu-satunya cara untuk mengolah kelapa tersebut. Proses pengolahan kelapa yang padat karya itu, sehingga membuat Sambu Group menyatu secara sosial dengan masyarakat sekitar.

BACA JUGA:  Cara Sehat dan Murah Hadapi Penyakit

Buah kerja keras, kerja cerdas, dan selalu berinovasi itulah yang menghantarkan perusahaan Sambu Group telah menjadi produsen produk kelapa terbesar dan terintegrasi di dunia. Konsep penyatuan dengan masyarakat itu adalah filosofi inti dari Mr. Tay, yang pada ujungnya tertanam dan menjadi sebuah keyakinan inti perusahaan dan nilai-nilai seperti itulah yang memupuk pondasi Sambu Group semakin besar dan mencapai kesuksesan sekarang ini.

Menghargai Stabilits Sosial

Perusahaan sebesar dan seusia 55 tahun, seperti Sambu Group tentu ingin terus menjaga kelangsungan perayaan kesuksesannya. Untuk itu, ia memiliki departemen khusus bidang penelitian dan pengembangan untuk keberlangsungan perusahaannya.

Tim departemen penelitian dan pengembangan itulah, Sambu Group berdedikasi pada pengembangan karya menuju inovasi, pengenalan, dan peningkatan produk dan proses kerja yang dilakukan karyawan perusahaannya. Perusahaan ini tidak setengah-setengah dengan cara membuktikannya memilih para insinyur dan ilmuwan yang terbaik dalam industri ini.

Tim tersebut ditugaskan secara langsung untuk mengembangkan produk baru dengan berdasar pada hasil penelitian terapan yang dilakukannya secara ilmiah dan penerapan teknologi, demi sebuah hasil yang mampu memfasilitasi pengembangan produk kelapa dan olahannya di masa depan.

Salah satu kunci kesuksesan perusahaan Sambu Group ini ialah dengan melakukan evaluasi konstan. Realisasinya, mereka tidak pernah berhenti untuk meningkatkan efektifitas metode yang digunakan. Lebih jauh, perusahaan Sambu Group ini terus berdiskusi untuk mengahasilkan hal terbaik dengan cara melakukan eksplorasi, hipotesis, dan mengklarifikasi produk-produk yang telah dirancang, dikembangkan, dan diuji.

Untuk itu, tidak mengherankan lewat proses siklus penelitian dan pengembangan itulah dihasilkan pola dan metode yang tepat. Itulah sebuah metode yang mampu menghasilkan produk lebih baik bila dibanding dengan sebelumnya. Artinya, lewat siklus penelitian dan pengembangan itulah, mereka ingin menerapkan, meningkatkan, dan mempelajari keefektifan produk yang dihasilkan.

Luar biasanya lagi, esensi inovasi dari perusahaan Sambu Group ini telah berakar jauh ke dalam DNA Group Sambu. Dampaknya, pengembangan produk industri dan konsumen itu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan seluas mungkin. Bahkan, memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat. Semangat inovasi itu terlihat jelas dan dapat ditemukan di setiap aspek bisnis yang dilakukan (sosial, ekonomi, dan kemitraan), serta pada produk mereka.

Keberadaan pekerjaan, semangat, dan rakyat yang jadi mitra itulah yang membuat perusahaan Sambu Group berbeda dengan para pesaingnya. Sambu Group, tidak disangsikan lagi merupakan perusahaan spesialis kelapa. Sambu Group ini telah memiliki pengalaman mengembangkan produk berbasis kelapa selama beberapa generasi.

Untuk itu, ia tahu betul bagaimana perusahaan ini menghargai stabilitas sosial di dalam masyarakat dengan menciptakan sinergi keberlanjutan. Yakni lewat megintegrasikan bisnis dengan lingkungan hidup.

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

Tinggalkan Balasan

error: