Tepuk Tangan untuk Pasukan Garda Terdepan
“Anak-anakku bagaimana? Siapa yang akan mengurus mereka jika aku tertular? Di mana hati nurani kalian?”
Di Cirebon, melalui akun media sosial pribadi seorang dokter spesialis paru menceritakan dilema yang dihadapi saat memeriksa pasien corona:
“Ketika melakukan pemeriksaan pasien itu rasanya tidak aman, takut, merasa kasihan dengan pasien. Tapi kami juga memikirkan bagaimana keluarga kita di rumah kalau misalkan kita ada apa-apa,”.
Di waktu lain, banyak juga diberitakan tentang tenaga medis terpaksa tidak pulang ke rumah masing-masing selama menjadi garda depan melawan virus corona. Hal itu karena mereka tak ingin mengambil risiko pulang dengan membawa virus dan menulari orang-orang tercinta di rumah. Kalau pun memilih pulang, seorang tenaga medis harus melakukan banyak prosedur untuk memastikan diri mereka benar-benar bersih dari virus corona sehingga tidak memiliki risiko menulari anggota keluarga.
Seorang tenaga medis mengisahkan, sesampainya di rumah ia harus segera melepas bajunya, mencuci langsung pakaiannya dengan ditambah desinfektan, mandi, mendesinfeksitelepon genggam, gawai, kunci kendaraan, kunci rumah, gagang pintu, dan permukaan lain yang dia sentuh. Ia juga menghindari kontak langsung dan menjaga jarak ketika berinteraksi dengan anak dan istri. Tidur pun di kamar yang berbeda, memisahkan diri dengan anggota keluarganya. Bahkan di televisi pernah ditayangkan seorang petugas medis yang mengkarantina diri dengan tidur dalam tenda di garasi rumahnya.
Teror salah alamat
Petugas medis yang telah berjibaku di medan juang, secara mental juga “diteror” hingga jiwanya meradang. Bukan hanya karena kegelisahan dan dilema, tapi juga karena pandangan yang salah kaprah dari segelintir oknum masyarakat terhadap mereka. Banyak masyarakat yang belum sadar dan berpersepsi negatif terhadap petugas medis saat ini.
Satu waktu ramai diberitakan di berbagai media ketika ada beberapa perawat yang “diusir” dari tempat kost nya sepulang kerja. Pemilik kost bertindak demikian ketika tahu mereka bekerja di rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Selain penolakan di tempat tinggal, beberapa petugas medis juga mandapatkan “perundungan” dari tetangga mereka. Ada yang menceritakan bahwa para tetangga tidak ada yang mau bertegur sapa ketika bertemu, meskipun sudah melakukan social distancing. Ada pula yang rumahnya diteriaki “corona..corona..” oleh anak-anak di lingkungan mereka, ketika melewati rumah para petugas ini. Lebih miris lagi ketika ada petugas medis yang meninggal dunia akibat tertular virus corona, jenazahnya ditolak oleh warga untuk dimakamkan di kampung dimana ia tinggal.
Rasanya, tepuk tangan, angkat topi dan rasa bangga saja tidak cukup kita persembahkan bagi siapa saja di garda terdepan dalam menghentikan pandemi ini. Anda mungkin mudah untuk berkata “Ah itu sudah risiko pekerjaannya saja”, tapi apakah anda bisa berkata hal yang sama jika anda di posisinya. Mari ringankan beban mereka dengan dengan bantuan dan dukungan kita semua. Jika tidak mampu membantu secara langsung, setidaknya setitik sokongan bisa kita berikan, mari patuh terhadap anjuran pemerintah. Biarkan mereka bekerja untuk kita, Kita #TetapDirumah untuk mereka.
Sumber
www.klinikvaksinasi.com/coronavirus-karakteristik-dan-penyebarannya/. Diakses 9 Mei 2020.
https://nasional.kompas.com/read/2020/04/20/11154441/curhat-perawat-Covid-19-didiskriminasi-pasien-tak-jujur-hingga-1-jam. Diakses 9 Mei 2020.
https://news.detik.com/bbc-world/d-4960635/cerita-tenaga-medis-yang-jauh-dari-keluarga-dan-harus-gunakan-apd-10-jam. Diakses 8 Mei 2020.
www.msn.com/id-id/berita/nasional/perawat-yang-meninggal-akibat-Covid-19-saya-hidup-mati-untuk-orang-yang-saya-sayangi/ar-BB11STPH. Diakses 8 Mei 2020.
https://tirto.id/flvF. Diakses tanggal 19 Mei 2020.
https://www.liputan6.com/news/read/4218837/pertaruhan-nyawa-petugas-medis-lawan-corona. Diakses 8 Mei 2020. Diakses 9 Mei 2020.
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4951854/perjuangan-perawat-pasien-corona-diusir-dari-kos-sampai-kehabisan-makanan. Diakses 9 Mei 2020.
https://www.liputan6.com/regional/read/4224683/tragedi-sang-pahlawan-medis-jenazahnya-ditolak-warga. Diakses 8 Mei 2020.
Edisi Cetak Dimuat di: Buletin Inside Edisi 29 Volume XV Nomor 2 Desember 2020
❤oOo❤_
Untuk mendapatkan update tentang informasi terbaru dari www.Insanitarian.com, silahkan ikuti kami lewat media sosial di bawah ini:
Instagram: https://www.instagram.com/arda.dinata/
Facebook: https://web.facebook.com/Inspirasiarda
Anda tidak ingin ketinggalan informasi dari leman website In SANITARIAN INDONESIA di https://insanitarian.com/! Caranya klik whatsApp di bawah ini:
Silakan share informasi ini agar nilai manfaatnya bisa dirasakan para pembaca lainnya. Oke, saya tunggu juga tanggapannya di kolom komentar ya!
_❤oOo❤_
Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:
- Biokimia
- Buku Kesehatan Lingkungan
- Dasar Kesling
- Entomologi
- Hyperkes
- Iklan
- Info Kesehatan
- Inspirasi Sanitarian
- Jurnal Kesehatan Lingkungan
- Kesehatan Lingkungan
- Lingkungan Fisik
- Majalah Inside
- Mikrobiologi
- Opini
- Parasitologi
- Pembuangan Tinja & Air Limbah
- Pengelolaan Sampah
- Pengembangan Profesi
- Penyehatan Air Minum
- Peraturan
- Promkes
- Renungan
- Rumah Sehat
- Sanitasi Makanan
- Sanitasi Rumah Sakit
- Sanitasi Tempat Umum
- Teknologi Tepat Guna
- Vektor dan Binatang Pengganggu

Pingback: Daftar Artikel Kesehatan - Inspirasi Sanitarian
Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you. https://www.binance.info/register?ref=IXBIAFVY
Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.