BiokimiaPengembangan ProfesiPenyehatan Air Minum

Menormalkan Nilai pH Air

Bagaimana menormalkan nilai pH air? Terpenuhinya standar pH pada air minum itu sangat tergantung dari kondisi karakteristik air bakunya. Fresh tidaknya air baku tersebut, sangat tergantung dari kualitas lingkungan lokasi sumber air tersebut. Inilah tugas Sanitarian untuk melakukan analisis kondisi lingkungan. Dan tentunya, bila tetap mau digunakan, maka sangat ditentukan oleh hasil proses pengolahan air baku tersebut.

Oleh: Arda Dinata

In SANITARIAN – Sanitarian itu tenaga kesehatan yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau ketrampilan melalui upaya pendidikan di bidang kesehatan lingkungan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Inilah kisah seorang Sanitarain menghubungi penulis lewat pesan singkat di whatsapp menanyakan bagaimana menormalkan nilai pH air?

_❤oOo❤_

“Maat pagi, saya pernah melakukan pemeriksaan sampel air bersih. Dan hasilnya pH sangat rendah 3,2 dan keruh. Air ini dikonsumsi oleh 2 ratusan orang. Dan rasanya asam. Mohon penjelasannya, kira-kira apa yang harus kami lakukan supaya bisa membantu masyarakat ini. Mereka tidak ada sumber air bersih lainnya. Makasih.” (Handryani Daleno Faeltha Goa).

_❤oOo❤_

Pagi itu, setelah postingan berjudul: “Instalasi Sanitasi Rumah Sakit, Penyelamat Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit,” itu jadi viral. Tiba-tiba ada pesan masuk yang ingin berkonsultasi seperti saya tulis di atas. Untuk itu, berikut ini tanggapan, komentar dan penjelasan dari saya atas masalah yang saudari Handryani hadapi saat ini.

Keberadaan air dalam hidup manusia itu, keberadaannya sangat vital. Baik untuk kebutuhan air bersih dan air minum. Bahkan krisis air dibeberapa daerah itu, bisa berujung terjadinya konflik sosial antara masyarakat. Terkait air minum, selama ini sebagian besar kebutuhan air minum dipenuhi dari sumber air tanah dan air bersih dari air permukaan yang diolah.

BACA JUGA:  Instrumen Portofolio Jabatan Fungsional Sanitarian Ahli Muda

Kalau kita analisis, keberadaan air di bumi umumnya tidak dalam keadaan murni (H2O). Melainkan air itu ada campuran bahan lain dan mengandung aneka zat, baik yang terlarut maupun tersuspensi termasuk mikroba.

Oleh karena itu, sebelum air itu dikonsumsi harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang ada sampai dengan tingkat yang layak dan aman untuk dikonsumsi manusia. Yakni, untuk air bersih adalah air jernih yang tidak berwarna, berbau, dan memenuhi peryaratan yang telah ditetapkan pemerintah.

Walau demikian, kondisi air jernih yang tidak berwarna dan tidak berbau itu belum tentu aman untuk dikonsumsi. Tapi, harus memenuhi persyaratan kualitas air minum (air yang aman untuk langsung dikonsumsi).

Tepatnya, air minum itu harus memenuhi persyaratan fisik, kimia, dan mikrobiologi. Pada konteks ini, salah satu parameter kimia paling penting yang perlu diperhatiakan ialah derajat keasaman (pH). Artinya, bila nilai pH tidak sesuai persyaratkan, maka kita harus menormalkan nilai pH air tersebut.

Derajat Keasaman (pH) Air

Sebelum kita menormalkan nilai pH air, maka terlebih dahulu memahami dulu apa itu pH dan indikator yang bisa digunakan. Nilai pH ialah kekuatan suatu asam atau basa.  Kata pH ini singkatan dari power of hydrogen atau kekuatan hidrogen dan merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen di dalam suatu larutan.

Nilai pH umumnya berkisar antara 0 san 14. Semakin rendah nilai pHnya, semakin besar konsentrasi ion hidrogennya. Artinya, suatu larutan dengan nilai pH kurang dari 7 disebut asam. Zat-zat bernilai pH 7 disebut netral. Sedangkan yang bernilai pH di atas 7 disebut basa atau alkali.

Alat ukur yang umum untuk menilai pH air salah satunya dengan lakmus. Indikator itu dapat menunjukkan apakah sesuatu adalah asam atau basa (alkali). Sebagai indikator, maka bila suatu zat yang berubah warna ketika dimasukkan ke dalam asam atau basa.Di salam asam berubah menjadi warna merah, dan di dalam basa menjadi biru.

BACA JUGA:  Jabatan Fungsional Tenaga Sanitasi Lingkungan (TSL)

Adapun derajat keasaman air minum harus berada pada 6,5-8,5. Nilai pH kurang dari 6,5 berarti air itu bersifat asam dan disarankan untuk tidak dikonsumsi karena bersifat asam. Air bersifat asam itu, meskipun tidak secara langsung dapat berdampak buruk terhadap kesehatan, pH air berifat rendah ini bersifat korosif. Yakni dapat melarutkan logam-logam yang tidak diperlukan oleh tubuh manusia. Untuk itu, kita harus menormalkan nilai pH air tersebut.

Begitu juga sebaliknya, kondisi air yang memiliki derajat keasaman melebihi 8,5 (bersifat basa) akan berdampak buruk pada tubuh manusia bila dikonsumsi. Sebab, air yang mengandung pH melebihi dari 8,5 itu mengandung ion-ion, seperti kalsium dan magnesium yang berlebih, yang tidak dibutuhkan tubuh manusia. Jadi, kita menyikapi kondisi air itu harus menormalkan nilai pH airnya terlebih dahulu.

Pengolahan pH Air

Untuk terpenuhinya standar pH pada air minum itu sangat tergantung dari kondisi karakteristik air bakunya. Fresh tidaknya air baku tersebut, sangat tergantung dari kualitas lingkungan lokasi sumber air tersebut.Inilah tugas Sanitarian untuk melakukan analisis kondisi lingkungan. Dan tentunya, bila tetap mau digunakan seperti kasus di atas, maka sangat ditentukan oleh hasil proses pengolahan air baku tersebut.

Hasil pengolahan itu, kemudian data derajat keasaman (pH) air minum hasil produksi dianalisis dan dibandingkan dengan standar kualitas air minum menurut Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-syarat Kualitas Air Minum. Sedangkan data pH air baku, dibandingkan dengan standar kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat Kualitas Air Bersih.

Pada kasus di atas, air permukaan yang kualitas airnya kurang baik bisa disebabkan dan dipengaruhi oleh infiltrasi air buangan yang ada di sekitar daerah tersebut. Lalu, treatment seperti apa yang dapat meningkatkan kualitas air tersebut?

BACA JUGA:  Lempung Sebagai Nenek Moyang Manusia

Dari pengamatan beberapa penelitian didapatkan untuk memperbaiki kesadahan dengan teknik pengolahan dengan saringan pasir lambat; dan ada juga yang menggunakan pasir, zeolit dan karbon aktif untuk memperbaiki kualitas air. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan tebal filter, jenis filter dapat meningkatkan kualitas air.

Secara teori dasar, ada tiga teknik pengolahan untuk memperbaiki kualitas air, termasuk untuk menormalkan nilai pH air. Ketiga teknik itu, yaitu:

Koagulasi (untuk menormalkan nilai pH)

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

2 komentar pada “Menormalkan Nilai pH Air

  • Arman Tadon

    Terima kasih informasinya pak.
    Mau bertanya juga ni pak, bagaimana cara pengelolaan sampah yang baik di puskesmas yang sangat terpencil jika belum memiliki incenerator dan lokasinya sangat jauh dari Rumah sakit Yg memiliki incenerator dan jarak tempuhnya harus menyebrangi pulau sehingga tdk memungkinkan untuk dilakukan Kerja sama pengelolaan sampah dng pihak Rumah sakit…
    Apakah harus dng bak septik di dalam tanah ?
    Mohon penjelasannya.
    Terima kasih

    Balas
    • Sama-sama… moga sehat selalu…
      Memang, terkait itu harus didiskusikan dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Alternatif itu bisa juga dilakuakan. Tapi, secara teknis intinya teknologi tepat guna yang kita gunakan itu masih memenuhi syarat dan tidak mencemari lingkungan. Lebih rinci doakan nanti saya coba bikin ulasannya dalam tulisan-tulisan berikutnya. Mohon bersabar ya! Makasih. salam sehat sukses selalu. Aamiin…

      Balas

Tinggalkan Balasan

error: